Uang Muka Motor dan Mobil Turun Hingga 10 Persen Per Desember

fea, CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 20:01 WIB
Uang Muka Motor dan Mobil Turun Hingga 10 Persen Per Desember Indonesia Motorcycle Show 2018. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) berencana meringankan uang muka (down payment/DP) pembelian kendaraan bermotor dari yang berlaku saat ini. Bukan hanya itu, uang muka juga akan ditetapkan lebih ringan lagi khusus untuk kendaraan yang mengedepankan 'aspek lingkungan'.

Saat ini ketetapan uang muka pembelian sepeda motor secara kredit sebesar 20 - 25 persen dari nilai kendaraan. BI berencana menurunkannya menjadi 15 - 20 persen.

Buat kendaraan roda tiga atau lebih, uang mukanya akan direndahkan menjadi 15 - 25 persen dari saat ini yang berlaku 25 - 30 persen.



Aspek Lingkungan

BI juga menjelaskan khusus kendaraan yang mengedepankan 'aspek lingkungan' uang mukanya ditetapkan lebih rendah menjadi 10 - 15 persen untuk motor dan 10 - 20 persen buat roda tiga atau lebih.

Belum ada penjelasan lebih detail tentang 'aspek lingkungan' yang dimaksud BI, namun ada kemungkinan hal ini berkaitan dengan era kendaraan berbasis listrik (KBL) yang baru saja dimulai di Indonesia. Seperti diketahui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang KBL sudah dirilis pada Agustus lalu.

"Namun, ini semua bisa diberlakukan asal rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan di bawah 5 persen. Kami masih mengedepankan asas prudential (kehati-hatian)," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (19/9).

Keringanan uang muka yang bakal diberlakukan BI pada 2 Desember 2019 ini merupakan bagian dari kebijakan melonggarkan aturan loan to value (LTV) buat kendaraan dan properti.

Menurut Perry kebijakan ini tujuannya agar permintaan kredit kendaraan dan properti bisa terus meningkat agar menjaga pertumbuhan domestik dalam situasi gempuran faktor eksternal yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Perry yakin perbankan masih punya kemampuan menyalurkan kredit, namun permintaan kredit disadari sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

"Jadi kami harap, instrumen pelonggaran LTV ini bisa membuat supply dan  kredit kendaraan dan properti akan lebih efektif," jelas Perry. (fea)