Pratama mengungkapkan hal ini menyusul peretasan yang dialami oleh situs Kementerian Dalam Negeri, DPR, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam waktu yang berdekatan.
"Ini hal baru dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Mulai marak meretas ke instansi pemerintah dan perusahaan besar agar didengar pendapatnya," kata Pratama saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (25/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komunikasi dengan komunitas peretas berfungsi penting membangun sumber daya manusia pengamanan siber yang kuat bagi negara.
"Tidak semua orang ahli meretas ingin menjadi pegawai, banyak dari mereka hobi dan senang melakukan penetration test atau meretas untuk menguji keamanan sistem milik pihak tertentu," katanya.
Sebelumnya situs, - Situs Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dibajak dengan metode deface sejak Minggu (22/9). Peretas mengganti halaman depan situs Kemendagri dengan laman hitam yang memprotes soal disahkannya revisi UU KPK.
Lihat juga:DPR Klaim Situs Down Bukan Karena Diretas |
Kemudian, situs Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diretas. Ketika CNNIndonesia.com mencoba membuka situs KPAI, tertera 'Service Unavailable'.
Namun, jika diketik dalam browser akan ada pesan singkat dari peretas.
"Maaf merusak halaman bapak dan ibu. Saya pikir dengan meretas KPAI, KPAI bisa mendengarkan keluh kesah bocah di bawah umur seperti saya. Jujur saja," tulis peretas situs KPAI. (jnp/evn)