Analisis

Pergeseran Pola Beli Produk Otomotif ke Toko Online

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 10:37 WIB
Pergeseran Pola Beli Produk Otomotif ke Toko Online Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkembangan situs jual beli online di Indonesia cukup cepat dari jumlahnya belasan jadi puluhan. Keberadaan mereka dianggap cukup mengubah pola belanja masyarakat terhadap barang tertentu, tak terkecuali produk kendaraan pribadi. Praktis toko online banyak digunakan oleh pemilik lapak.

Aktivitas jual beli online pun dinilai memudahkan pedagang dalam memasarkan produk kendaraan, dan diharapkan tidak membatasi waktu konsumen saat melakukan aktivitas berbelanja sehingga bisa melakukan pembelian kapan pun. Sebab semua rutinitas pembelian sepeda motor atau mobil dianggap bisa dilakukan kapan pun melalui aplikasi pada ponsel, tanpa harus ke dealer.

Di Indonesia terdapat beragam situs toko online yang menjual produk otomotif roda dua dan empat, hingga aksesori pendukung.


Situs-situs tersebut yang memanjakan konsumen untuk memenuhi kebutuhan berkendara, di antaranya Jonathan (30). Ia pernah membeli sepeda motor baru lewat toko online beberapa waktu lalu.

Menurut dia membeli barang lewat ponsel tidak jauh berbeda saat harus datang ke dealer. Proses administrasi cukup cepat, bahkan sepeda motor yang dipesan sudah tiba di rumah satu hari setelah proses transaksi usai.

"Ya tinggal beli, bayar pake kartu kredit. Pilih tenornya seinget gue itu enam bulan. Terus besoknya sudah sampai," kata Jonathan kepada CNNIndonesia.com.

Perubahan pola belanja produk otomotif ini sejalan dengan jumlah penggunaan internet Indonesia. Konsumsi internet masyarakat Tanah Air disebut selalu naik setiap tahun.

Lebih dari 4,3 miliar pengguna internet aktif, yang berarti lebih dari 56 persen total seluruh populasi dunia saat ini yang berjumlah lebih dari 7,7 miliar orang.

Data internetworldstat pada Juni 2019 menyebut Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna layanan internet tertinggi ke-5 di dunia dengan total lebih dari 143 juta pengguna aktif setelah China, India, Amerika Serikat, dan Brazil.

Public Relations Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menuturkan pihaknya tidak secara langsung menjadi pedagang produk otomotif. Mereka bekerja sama menjadi 'penyambung lidah' antara mitra Agen Pemegang Merek (APM) dalam hal ini dealer dengan calon konsumen yang merupakan pengguna Tokopedia.

"Ini menciptakan peluang lewat bisnis secara online, salah satunya dalam bidang otomotif," ujar Ekhel.

Produk otomotif mulai di etalase Tokopedia sejak tahun lalu. Sejak saat itu Ekhel mengklaim antusiasme masyarakat berburu produk otomotif meningkat. Banyak transaksi, termasuk produk aftermarket pada situsnya.

Klaimnya nilai transaksi penjualan kategori otomotif di Tokopedia pada kuartal ketiga 2019 naik sebesar dua kali lipat (200 persen) dibandingkan tahun sebelumnya.

"Hal ini juga sebagai upaya untuk memajukan industri kendaraan bermotor dan aftermarket Indonesia," ucap Ekhel.

Konsumen Lebih Puas Kunjungi Dealer

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto mengamini bila pola beli masyarakat terhadap produk otomotif mulai bergeser dari dealer ke toko online. Tapi menurutnya mayoritas konsumen masih mengunjungi dealer untuk membeli produk mobil yang dipilih.

Alasannya, Jongkie berpendapat calon pembeli butuh bertatap muka dengan tenaga penjual untuk negosiasi langsung soal harga, serta mencoba langsung unit kendaraan yang diinginkan.

"Soalnya masih nawar dan diskusi macam-macam antara pembeli dan penjual," pungkas Jongkie.

Sementara itu, Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengungkapkan membeli mobil atau motor tidak seperti seseorang membeli produk elektronik di toko online.

"Kalau barang elektronik kan enggak perlu begitu karena uang yang dikeluarkan lebih murah. Kalau beli mobil angapannya masih seperti investasi," imbuhnya.

Internet Hanya untuk Gali Informasi

Amelia mengatakan calon pembeli mobil kebanyakan memang mengandalkan internet, tapi bukan langsung bertransaksi pada toko online. Para calon pembeli umumnya menggali informasi tentang kendaraan yang akan dibeli lewat internet, kemudian mengunjungi dealer untuk menyentuh dan melakukan uji kemudian produknya.

"Biasanya mereka mencari informasi dulu di online. tetapi negosiasi atau test kan di dealer," imbuh Amelia.

Amelia pun belum ada bayangan pergeseran 100 persen pembelian terhadap produk otomotif di toko online.

"Suatu saat mungkin, tetapi waktunya kapan ya belum tahu. Karena tergantung daya beli. Kalau beli mobil sudah tidak terasa berat, bisa beli via online," tutur Amelia.

Senada, Direktur Pemasaran Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi mengatakan masyarakat mengandalkan internet bukan untuk bertransaksi. Anton menambahkan toko online diprediksi akan memudahkan masyarakat untuk membeli produk otomotif, tapi hal tersebut belum terlihat untuk saat ini.

'Salah satu dealer kami contohnya mendapat prospek dari online media sekitar lima sampa enam persen dari total prospek. Dari lima sampa enam persen ini tidak semua membeli," ujar Anton. (mik)