Dari data yang dipaparkan di situs VPNOverview, dilaporkan kartu kredit bernilai Rp11,3 juta -Rp14 juta dijual hanya Rp1,1 juta saja (US$79). Sementara akun Paypal senilai Rp170 juta (US$12 ribu) dijual Rp17 juta (US$1200).
Untuk akun media sosial seseorang, harga yang ditawarkan lebih murah lagi. Untuk akun media sosial, harga yang ditawarkan Rp183 ribu (US$12,99). Sementara data pribadi seseorang dijual antara US$40 hingga US$200. Sementara detil bank orang tertentu dijual US$50 hingga US$200.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, data yang dijual di dark web ini ternyata tak semua akurat. Ada juga yang menjual data palsu namun dirancang sangat mirip dengan yang asli. Data campuran antara yang asli dan palsu. Data paspor Amerika Serikat (AS) dijual US$777. Sementara data paspor dan SIM berkendara dijual US$888. Data paspor dan 'KTP' AS juga dijual US$888. Tapi data kombinasi KTP, paspor, dan kartu SIM berkendara
Perusahaan ini juga mengungkap pasar (marketplace) yang membuat penjual dan pembeli bisa bebas berinteraksi dan jual beli data. Marketplace atau pasar online di pasar gelap ini misalnya Financial Oasis dan PayPal Cent.
Namun, bukan hanya data yang diperjualbelikan. Para peretas juga menjual akses ke berbagai perusahaan yang sudah mereka bobol. Perusahaan ini juga mendaftar perusahaan mana saja yang sudah diretas. Para peretas menaruh harga ribuan dolar bagi mereka yang ingin mendapat akses masuk ke basis data (database) berbagai perusahaan itu.
Sebagai contoh akses ke basis data ke perusahaan aplikasi Dubsmash dihargai US$4.995 (sekitar Rp70,7 juta). Dengan membayar puluhan juta rupiah ini peretas akan memberikan akses ke 15,5 juta data Dubsmash. Akses data ke beberapa perusahaan lain yang ditawarkan adalah Armor Games, MyFitnessPal, dan MyHeritage. (eks)