Laporan Dari Jepang

Toyota Hati-hati soal Harga dan Produksi Lokal Mobil 'Hybrid'

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 08:30 WIB
Toyota Hati-hati soal Harga dan Produksi Lokal Mobil 'Hybrid' Toyota Altis. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Operating officer Toyota Motor Corp Masayoshi Shirayaagai menyadari harga kendaraan berteknologi hybrid relatif mahal untuk pasar otomotif Indonesia. Hal itu karena faktor produk mobil yang masih diimpor dari Jepang.

Untuk menekan harga mobil hybrid dan murni listrik, Toyota telah menyiapkan perencanaan. Yang menjadi perhatian utama perusahaan adalah menurunkan biaya produksinya dengan memproduksi secara lokal.

"Berarti kami harus menurunkan biaya produksi dan di situlah kekuatan kami [mengembangkan mobil hybrid dan listrik harga terjangkau]," kata Shirayaagai di Odaiba, Jepang, Selasa (22/10).


Pemerintah terbuka lebar bagi para pemanufaktur otomotif yang tertarik menjual mobil hybrid di dalam negeri.

Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang kendaraan berbasis listrik diundangkan pada 12 Agustus 2019 dan insentif pajak yang tengah disusun diharapkan bisa merangsang pabrikan menanamkan investasi untuk memproduksi lokal mobil hibrida dan listrik.

Di Indonesia, segmen kendaraan yang menggiurkan bagi konsumen adalah kisaran harga Rp250 sampai Rp300an juta. Ketatnya persaingan di segmen ini diharapkan bisa dimanfaatkan pabrik untuk menawarkan produk mobil hibrida dengan harga setara.

Kendati demikian, di tengah pasar yang terbuka lebar, pihak Toyota belum bisa memastikan model kendaraan penumpang untuk bermain di pasar mobil hibrida. Shirayaagai menjelaskan belum ada gambaran karena menilai masih terbentur dengan regulasi insentif yang tengah dirancang pemerintah.

"Kami menawarkan produk yang paling diminati oleh pangsa pasar, tentu di Indonesia permintaan untuk mobil hybrid cukup besar, mobil hybrid akan lebih di terima di sana dinikmati oleh masyarakat.

"Kami belum memutuskan sama sekali, namun setelah kami memutuskan akan kami segera beritahu," ucapnya.

Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto ditemui di lokasi sama mengaku pihaknya sampai saat ini masih menunggu kepastian pengumuman petunjuk teknis (juknis) dalam bentuk Peraturan Menteri (PM) untuk mendukung Perpres kendaraan listrik.

Menurut pria karib disapa Soerjo itu, kepastian regulasi membuat perusahaan lebih fleksibel menentukan arah pengembangan bisnis otomotif Toyota ke depan.

"Toyota terus mengembangkan teknologi yang terkait dengan kendaraan yang lebih ramah lingkungan, apakah itu hybrid, plug-in hybrid, BEV, FCEV. Pilihan-pilihan ini akan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, regulasi pemerintah, dan kondisi Indonesia. Kami akan terus berdiskusi dengan pemerintah mengenai hal ini," tutup Soerjo.

(mik)