Padahal menurut BSA, penggunaan software bajakan bisa membuat kerentanan perusahaan atas serangan malware naik 29 persen. Apalagi saat ini menurut Tarun Sawney, Senior Director BSA, di dunia tiap 8 detik ada satu malware baru yang lahir.
"Tingkat penggunaan software (ilegal) di kalangan perusahaan saat ini sangat tinggi [...] dan itu dapat menimbulkan sejumlah risiko bagi masyarakat, komunitas bisnis, dan keamanan nasional," kata Sawney, Senior Director BSA untuk wilayah Asia kepada awak media di Hotel Gran Melia, Jakarta, Kamis (24/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara-negara di kawasan ASEAN rata-rata turun tipis terkait penurunan penggunaan software ilegal. Berdasarkan survey BSA '2018 Global Software Survey', Indonesia penggunaan software bajakan pada perusahaan Indonesia hanya turun satu persen dari 2017 ke 2015. Pada 2015, penggunaan software bajakan di Indonesia mencapai 84 persen dan turun jadi 83 persen pada 2017.
Sehigga, dibanding negara-negara Asia Tenggara lain, Indonesia menempati posisi paling tinggi terkait angka penggunaan software bajakan. Disusul oleh Vietnam dan Filipina.
Lihat juga:Biaya PC Lawas Lebih Mahal dari PC Baru |
Direktur Teknologi Informasi, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Sarno Wijaya menyatakan bahwa kegagalan dalam menekan tingkat penggunaan software ilegal akan memicu penyebaran malware. Sebab, menurutnya software bajakan yang tidak mendapat pembaruan bakal menjadi celah atas serangan malware.
BSA Global Software Survey yang dilakukan bersama IDC memiliki responden berjumlah 23 ribu orang yang terdiri dari karyawan perusahaan, CIO, serta konsumen di 110 negara di dunia. (eks/eks)