Johnny menyebut pihaknya bakal segera berkoordinasi secara intensif dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
"Nanti kita koordinasi dengan BSSN untuk pertukaran informasi dan lainnya. Jangan berandai-andai dulu [pengguna di Indonesia kena spyware Pegasus]," kata dia kepada awak media usai acara Menuju 100 Smart City di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (6/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di rentang waktu Januari 2018 hingga Mei 2019, NSO yang merupakan perusahaan asal Israel itu, membuat akun WhatsApp yang digunakannya untuk mengirim kode jahat ke perangkat yang ditargetkan.
Pegasus sendiri merupakan produk spyware yang didesain untuk memantau semua kegiatan pengguna ponsel, seperti SMS, email, data lokasi, riwayat browsing, panggilan telepon, dan lainnya.
[Gambas:Video CNN]
Spyware ini juga bisa menginfeksi melalui tautan yang dikirim lewat SMS. Pegasus biasanya digunakan pemerintah dan badan intelijen.
Untuk menginfeksi perangkat Android, Pegasus memanfaatkan metode rooting atau frameroot. Sementara iOS, spyware ini menggunakan metode jailbreak atau proses menghilangkan batasan yang diberlakukan oleh Apple.
Software tersebut pun bisa digunakan untuk menyalin data dan bahkan menghidupkan mikrofon untuk mengubah telepon menjadi perangkat yang mendengarkan.
Banyak pelanggan NSO Group adalah pemerintah yang mengatakan mereka ingin perangkat lunak untuk mengawasi teroris dan memerangi kejahatan serius.