Garis Wallacea, Leluhur Manusia Modern di Tanah Sunda

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 10:52 WIB
Garis Wallacea, Leluhur Manusia Modern di Tanah Sunda Ilustrasi leluhur manusia modern Garis Wallacea. (MARCO BERTORELLO / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Pembimbing Yayasan Wallacea sekaligus ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) periode 2008-2018. Sangkot Marzuki mengatakan festival Wallacea Week akan menceritakan mengenai keunikan dari Garis Wallacea yang tercipta 150 tahun lalu.

Keunikan tersebut di antaranya adalah ternyata Garis Wallace merupakan titik di mana leluhur manusia modern Homo Sapien yang berasal dari Afrika harus bermigrasi menyebrangi laut dari Paparan Sunda atau Tanah Sunda.

Paparan Sunda itu termasuk Semenanjung Malaya, Kepulauan Sunda Besar termasuk Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Saat itu, Sumatra dan Jawa masih satu benua pada zaman es terakhir.


"Sumatra, Kalimantan dan Jawa masih bagian dari Asia jadi satu. 12 ribu tahun lalu, itu disebut dataran Sunda. Manusia modern pertama kali harus menyeberangi laut di Garis Wallace, di situlah pertama kali manusia harus harus menyeberangi laut," kata Sangkot saat ditemui di kantor British Council, Jakarta, Selasa (19/11).


Pergerakan migrasi Homo Sapien dimulai pada 200 ribu tahun hingga 150 ribu tahun lalu. Kemudian di dekat Garis Wallace ditemukan lukisan gua tertua di dunia di hutan Kalimantan.

Penemuan gambar menyerupai banteng tersebut diprediksi berasal dari zaman Palaeolithic Atas hingga zaman es akhir. Gua-gua yang berada di hutan Kalimantan memang terkenal memiliki banyak lukisan kuno.

"Itu tanda manusia kreativitas manusia itu gambar-gambar yang ada di gua-gua 40 ribu tahun yang lalu.  Kenapa munculnya situ, munculnya ada di gua-gua di Kalimantan Timur. Apakah berkaitan dengan Garis Wallace," ujarnya.

Sangkot menjelaskan Wallace menyadari ada perbedaan karakteristik antara hewan-hewan di Kalimantan dan Sulawesi dan di Bali dan Lombok. Padahal pulau-pulau tersebut berdekatan.

[Gambas:Video CNN]

Kemudian  mengajukan teori bahwa ada garis tak kasat mata yang membujur antara Kalimantan dan Sulawesi dan Bali dan Lombok, yang memisahkan fauna dari pulau-pulau tersebut.

"Hingga kini, dunia mengakui Kawasan Wallacea sebagai laboratorium alam dengan ekologi yang paling beragam. Teori evolusi pun lahir di kawasan ini," ujar Sangkot.

Seorang naturalis asal Inggris Alfred Russell Wallace, pada 150 tahun lalu menjelajahi nusantara untuk mendokumentasikan keunikan fauna, flora, dan budaya di kepulauan Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku wilayah yang kini dikenal sebagai Kawasan Wallacea.

Perjalanan ini membuahkan karya Wallace yang paling terkenal, The Malay Archipelago atau 'Kepulauan Nusantara' yang tahun ini berusia 150 tahun.

Bertepatan dengan perayaan 150 tahun terbitnya buku catatan itu, Wallacea Week tahun ini akan diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan pada 25 hingga 28 November mendatang. Acara itu sekaligus menjadi puncak dari rangkaian festival Wallacea Week yang digagas British Council sejak 2017.

(jnp/DAL)


BACA JUGA