TREN

DNA Simpan Jejak Sejarah Manusia Sejak 180 Ribu Tahun Lalu

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 03/08/2019 16:53 WIB
DNA manusia tak sekedar menyimpan sejarah siapa orang tua kandung, tapi bisa ditarik hingga 180 ribu tahun lalu untuk megetahui sejarah nenek moyang manusia. Ilustrasi. Homo Naledi. (CNN)
Jakarta, CNN Indonesia -- DNA ternyata menyimpan sejarah. Tidak hanya sejarah manusia, tapi jejaknya bisa ditelusuri hingga zaman nenek moyang manusia sejak 180 ribu tahun lalu. Masa ketika nenek moyang umat manusia bermigrasi dari Afrika ke wilayah-wilayah lain di muka Bumi, termasuk Indonesia.

"Our genom carry story of evolution" (Genom kita menyimpan cerita evolusi), demikian kutipan dari seorang biologis molekular dan sel, Kenneth Miller. "Tertulis dalam DNA bahasa genetik molekukar dan cerita ini tak terbantahkan."

Herawati Sudoyo, peneliti genetika dari Lembaga Eijkman pun sepakat akan hal itu. Ia menuturkan tes DNA tidak hanya berguna untuk melihat identitas seseorang dan siapa orang tua kandung dari seorang anak seperti banyak dibicarakan saat ini saja. Tapi pola-pola genom yang tersimpan dalam catatan DNA tubuh manusia ini menyimpan catatan hingga 180 ribu tahun lalu, seperti tertulis dalam buku saku Herawati Sudibyo, 'Membaca Genom, Menguak Tabir Asal Usul'.


"Genom kita menceritakan sejarah asal mula nenek moyang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya," tuturnya dalam acara Kajian Sains Populer Asal Usul Manusia Modern, pekan lalu (25/7).

Untuk mengetahui asal-usul nenek moyang, Herawati lalu melakukan pengecekan DNA yang sampelnya dikirim ke Amerika Serikat untuk diteliti. Hasilnya, dirinya yang notabene lahir di kota Pati, Jawa Timur, tidak asli Indonesia.

"Dari hasil pengecekan DNA, 96,8 persen berasal dari Asia Tenggara, tapi saya punya 2,7 persen keturunan China," tuturnya.
DNA Simpan Jejak Sejarah Manusia Sejak 180 Ribu Tahun LaluDNA manusia ternyata menyimpan sejarah panjang perjalanan manusia di muka Bumi sejak ratusan ribu tahun lalu. (Pixabay/Qimono)
Jejak kapan keturunan China ini masuk ke dalam struktur DNA dirinya pun ternyata bisa dilacak dari DNA. Dalam presentasinya, Hera menyebut diperkirakan darah China dalam garis keturunannya masuk sekitar tahun 1710 hingga 1800. Era sebelum pendudukan kolonial, ketika Indonesia masih terdiri dari berbagai kerajaan.

"Di sekitar tahun itu, Pati dikenal sebagai melting pot (tempat bercampur), banyak pedagang dari China, dari mana-mana ada disana," tuturnya.

Sehingga menurutnya, kondisi kota yang demikian memungkinkan dirinnya mendapat sebagian kecil darah China dalam tubuhnya.


DNA dan sejarah migrasi 

Tak cukup hanya mengungkap asal-usul manusia pada 400 tahun lalu saja. Lebih jauh, DNA ternyata bisa ditarik untuk mengetahui dari jalur migrasi mana kita berasal. Herawati lantas menarik garis moyangnya pada linimasa yang lebih panjang, 65 ribu tahun lalu.

"Cerita moyang saya dari garis ibu, saya masuk dalam kelompok B7 dalam haplogrup R," tuturnya.

Haplogrup R ini ditemukan di setiap penjuru Eurasia (Eropa dan Asia). Sebab haplogrup ini merupakan penanda ketika manusia yang sudah sampai di sekitar jazirah Arab berpencar ke Eropa dan Asia sekitar 57 ribu tahun lalu. Sebelumnya kelompok ini telah bermigrasi keluar dari Afrika ke kawasan Timur Tengah sekitar 60-65 ribu tahun lalu.

DNA Simpan Jejak Sejarah Manusia Sejak 180 Ribu Tahun LaluArkeolog Indonesia sebelumnya mengumumkan temuan lukisan manusia purba di goa di kawasan Sangkulirang, Kalimantan Timur. Berdasarkan uji karbon, lukisan purba ini diperkirakan dibuat sekitar 55 ribu tahun lalu. (Arkenas/Pindi Setiawan)
Dari Timur Tengah, pengembaraan para leluhur lantas berpencar ke tiga arah. Ada yang melanjutkan perjalanan ke dataran Eropa, jazirah Arab dan Asia.

Perjalanan nenek moyang haplogrup R yang menjelajah Asia ini pun terpecah lagi sebelum memasuki kawasan India. Sebagian ke utara, sementara bagian lainnya terus menyusuri pesisir Asia Selatan hingga masuk ke kawasan Indonesia lewat Asia Tenggara.

"R menyebar ke dua arah, menyusuri pantai Samudra Hindia, ke Asia Tenggara dan Australia [...] dan ke utara Himalaya d Asia Tengah, ke daerah China."

Dari China, para nenek moyang bahkan menyebar hingga daratan Amerika dan menjadi nenek moyang di kawasan itu. Sehingga orang-orang di Asia Timur dan Amerika berbagi sejarah genetik.

Dari hasil sampel darahnya pun Herawati bisa mengetahui kalau ia ada keturunan Neanderthal. Neanderthal adalah manusia purba yang sudah punah 40 ribu tahun lalu. Di era itu, manusia Neanderthal melakukan perkawinan dengan Homo Sapiens yang merupakan leluhur manusia modern.

"Saya memiliki relatif sedikit varian Neanderthal, kurang dari 4 persen," tuturnya.

Dalam presentasinya, Hera menjelaskan pertemuan manusia Neanderthal dengan Homo Sapiens ini diperkirakan terjadi di sekitar kawasan Timur Tengah. Percampuran Homo Sapiens dengan manusia purba Homo Denisovan kembali diperkirakan terjadi di sekitar kawasan Asia Tenggara.

"Kita (di Indonesia) ada varian homo Neanderthal dan homo Denisofal," tuturnya. "Manusia Indonesia bagian barat memiliki genetik Neanderthal dan di timur genetik Denisovan," lanjutnya.  

Sebagian jejak sejarah nenek moyang yang terungkap dari DNA Herawati adalah sekelumit kecil kisah manusia Indonesia. Ia dan timnya hingga saat ini masih melakukan penelitian DNA dari berbagai suku di Indonesia untuk mengungkap asal usul manusia Indonesia. (eks/eks)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK