Respons Pesaing Soal Datsun Setop Produksi di Indonesia

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 18:06 WIB
Respons Pesaing Soal Datsun Setop Produksi di Indonesia Datsun keluar dari pakem LCGC dengan dengan meluncurkan Cross pada 2018. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nissan Motor Indonesia (NMI) yang memilih menghentikan produksi Datsun di Indonesia mulai Januari 2020 mendapat respons dari merek pesaing.

Mengarungi pasar otomotif Indonesia sejak 2014, Datsun masuk ke segmen mobil harga terjangkau ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) melalui Go dan Go+.

Datsun keluar dari pakem LCGC dengan dengan meluncurkan Cross pada 2018 namun penjualannya kurang maksimal sampai akhirnya produksi Datsun di Indonesia dihentikan.


Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra menilai hal tersebut merupakan langkah tepat bagi Nissan sebagai induk Datsun untuk 'menyelamatkan' perusahaan. Menurut Amelia jika Nissan mempertahankan Datsun, Ia menilai bukan tidak mungkin perusahaan mengalami kerugian lebih besar.

Daihatsu sendiri punya senjata untuk memerangi Datsun melalui dua produk yaitu Sigra dan Ayla. Pabrik Daihatsu yang berkapasitas produksi 500 ribuan unit per tahun ini juga memproduksi LCGC merek Toyota, yakni Calya dan Agya.

"Keputusan Nissan untuk Datsun diambil oleh management Nissan pusat," kata Amelia dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (25/11).

"Ya mereka mau minimize kerugian. Menurut berita kan profitnya drop 70 persen. Wajar jika Nissan coba efisiensi, unit-unit bisnis yang rugi karena skala ekonomi tidak memadai ditutup," ucap Amelia kemudian.

Mengulik data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode Januari-Oktober 2019, penjualan Datsun terdepak ke posisi 11 penjualan mobil di Indonesia, dengan wholesales 5.921 unit atau 0,7 persen. Angka itu menyusut jauh ketimbang pencapaian pada periode yang sama tahun lalu, 9.701 unit.

Sementara Direktur Pemasaran Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmy tak ingin berkomentar lebih jauh mengenai keputusan Nissan di Indonesia.

"Iya soal masuk atau berhenti jualan saya rasa itu ranah Datsun untuk menjawab ya," ucap Anton.

Bagi Anton, pasar otomotif Tanah Air sangatlah dinamis. Toyota juga 'bertahan' menghadapi perubahan kondisi pasar, termasuk kemungkinan kehadiran merek baru yang berpotensi menjadi penantang baru Toyota menggantikan Datsun untuk pasar 'mobil murah' nanti, contohnya Renault Triber yang harganya beririsan dengan LCGC.

"Toyota selalu harus siap menghadapi perubahan kondisi di pasar," ungkap Anton.

Direktur Jenderal Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto menilai bila keputusan Nissan soal Datsun imbas 'kalah' bersaing memperebutkan pasar di Indonesia.

"Intinya daya saing dan akhirnya bicara skala ekonomi. Beberapa brand baru (di Indonesia) dapat mencapai pangsa pasar yang diharapkan karena daya saing produknya baik di dalam maupun untuk Ekspor," tutup Harjanto. (ryh/mik)