Kadin: Motor Listrik Lebih Masuk Akal Sebelum Mobil Listrik

Febri Ardani, CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 13:43 WIB
Kadin: Motor Listrik Lebih Masuk Akal Sebelum Mobil Listrik Motor listrik beredar di jalanan Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai sektor yang seharusnya didorong lebih dahulu dalam pengembangan industri elektrifikasi adalah sepeda motor ketimbang mobil. Motor yang punya karakteristik lebih sederhana dirasa cocok memulai peralihan industri dari mesin pembakaran dalam ke elektrifikasi.

Indonesia punya landasan regulasi terkait elektrifikasi industri otomotif yakni Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019. Di dalam regulasi itu mengatur tentang segala hal terkait percepatan industri, termasuk soal insentif, produksi lokal, dan penanganan limbah.

Kementerian Perindustrian pernah menyatakan populasi mobil berteknologi listrik, hybrid dan murni listrik, ditargetkan sejumlah 400 ribu unit (20 persen) saat Indonesia bisa menjual 2 juta unit pada 2025.


Pada tahun yang sama, target motor listrik yakni 20 persen (1,5 juta unit) dari prediksi total penjualan motor 7,7 juta unit.

Wakil Ketua Kadin Johnny Darmawan, menjelaskan, masih ada pelbagai pertanyaan terkait industri elektrifikasi otomotif sebab peraturan turunan Perpres 55/2019 belum dirilis banyak kementerian.

Pemerintah saat ini terasa ingin fokus pada industri mobil, namun menurut Johnny elektrifikasi motor bisa dimulai lebih dulu.

"Tapi untuk ini saya merasa roda dua sudah bisa untuk pakai baterai, kan kalau mogok tinggal dorong," ucap Johnny, di Jakarta (Selasa 26/11).

Dia menyebut berbagai kendala elektrifikasi mobil, yakni butuh banyak pendukung dari berbagai macam pihak. Misalnya soal infrastruktur, mobil membutuhkan stasiun cas yang membutuhkan riset dan investasi lebih dulu. Sedangkan motor dikatakan bisa mendapatkan energi listrik dari proses pertukaran baterai.

"Motor itu untuk bikin pabrik masuk di akal, Indonesia kan 6-7 juta [penjualan motor per tahun], kalau regulasi dinyatakan ke sana anggap saja dalam waktu 3-4 tahun itu 4-5 juta unit kan sebenarnya baterai itu secara skala produksi sudah bisa," ujar Johnny.

Johnny mengatakan ingin Indonesia beralih ke industri elektrifikasi yang berkelanjutan. Target yang ditetapkan Kemenperin diyakini bakal tercapai, namun dikatakan perlu ada tahapan-tahapan yang perlu dilewati.

"Saya setuju itu akan tercapai tapi perlu tahapan-tahapan. Bahwa ke depan harus ke kendaraan listrik, tentu, karena energi terbarukan harus dicari, fosil tidak mungkin. Bukan tidak mulus, itu butuh waktu, pelan-pelan," ucap Johnny. (fea/mik)