Belakangan, raksasa asal Korea Selatan, Samsung harus rela disalip oleh Oppo dan Vivo yang menduduki peringkat satu dan dua. Samsung harus rela merosot ke peringkat tiga pada kuartal tiga 2019.
Merek-merek seperti Nokia, Motorola, Huawei, Sony, hingga LG juga tak berhasil naik ke permukaan. Bahkan dua nama terakhir sudah memutuskan hengkang dari pasar Indonesia. Risky mengatakan Motorola sudah hengkang sejak 2016, sedangkan LG sudah hengkang dari 2018.
1. Faktor Harga
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai perbandingan, Risky menjelaskan LG memiliki ASP US$290, sedangkan Sony memiliki ASP US$309. Bagi Risky, harga merupakan faktor yang paling dipertimbangkan oleh masyarakat Indonesia.
[Gambas:Video CNN]
2. Pemasaran
Faktor kedua adalah aktivitas pemasaran. Risky menjelaskan untuk meningkatkan penjualan dibutuhkan pengenalan merek (brand awareness) yang tinggi. Pengenalan ini diciptakan melalui aktivitas pemasaran yang intensif.
Bagi Risky, merek-merek ponsel dari China dan Taiwan sangat jor-joran melakukan aktivitas pemasaran di Indonesia. Berbanding terbalik dengan merek-merek ponsel lainnya.
"Jadi memang selama LG dan Sony pada saat di Indonesia itu kita kurang bisa melihat marketing agresif. Dibandingkan Vivo dan Oppo sendiri mereka spending (pengeluaran) iklan itu sangat banyak baik online maupun offline," kata Risky.
Posisi Samsung di kuartal ini memang dikepung oleh empat vendor ponsel China. Berturut-turut peringkat vendor ponsel di Indonesia pada kuartal 3 2019 (Q3 2019; Juli-September 2019) sebagai berikut, seperti tercantum dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (14/11).
* Oppo (26,2 persen)
* Vivo (22,8 persen),
* Samsung (19,4 persen),
* Realme (12,6 persen), dan
* Xiaomi (12,5 persen). (jnp/eks)