Disuntik Dana Rp1,2 Triliun, Kredivo Ekspansi ke Filipina

CNN Indonesia | Rabu, 04/12/2019 21:18 WIB
Disuntik Dana Rp1,2 Triliun, Kredivo Ekspansi ke Filipina Ilustrasi pendanaan Kredivo. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- FinAccel, induk perusahaan Kredivo berhasil meraih pendanaan ekuitas Seri C sebesar US$90 juta atau sekitar Rp1,2 triliun. Pendanaan ini akan digunakan untuk mengembangkan bisnis di Indonesia dan di Asia Tenggara, salah satunya Filipina.

Pendanaan ini dipimpin oleh Asia Growth Fund, yakni joint venture antara Mirae Asset dan Naver) serta Square Peg. lnvestor lain yang berpartisipasi dalam penggalangan dana Seri C antara lain, Singtel Innov8, TMI (Telkomsel lndonesia), Cathay Innovation, Kejora lntervest, Mirae Asset Securities, Reinventure, dan DST Partners. Besaran dana disebut-sebut melebih target atau oversubscribed.

Dana investasi akan digunakan untuk mengakselerasi pertumbuhan pasar di Indonesia, merekrut tenaga ahli, serta memperluas jangkauan layanan di Indonesia dan Asia Tenggara.


Pendanaan ini meningkatkan total modal yang dihimpun perusahaan selama 2019 hingga mencapai lebih dari US$ 200 juta dalam bentuk lini kredit dan ekuitas. Dana itu berasal dari konsorsium pemberi pinjaman termasuk bank dan dana kredit.


"Kami menyambut gembira bergabungnya Mirae Asset dan Naver di babak baru pertumbuhan kami. Kesamaan visi antara FinAccel dengan para investor yaitu membangun layanan keuangan yang cepat, terjangkau, dan mudah diakses oleh jutaan pelanggan di kawasan Asia Tenggara," ujar CEO & Co-Founder FinAccel Akshay Garg dalam wawancara eksklusif di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (4/12).

Pendanaan ini akan digunakan untuk mengembangkan bisnis di Indonesia dan di Asia Tenggara. Dalam waktu dekat, Kredivo akan berekspansi ke Filipina pada semester I 2020.

"Kami prioritas tetap di Indonesia sebagai core market. Selanjutnya kami akan bangun di regional, dan selanjutnya kami gunakan untuk bangun tim," kata Akshay.

Pendanaan juga akan dilakukan untuk membangun lapisan keamanan data di Kredivo seiring berkembangnya bisnis baik dari sisi sistem maupun sumber daya manusia.


Akshay mengungkap selama beroperasi 3,5 tahun, Kredivo belum pernah mengalami kebocoran data pengguna. Ia mengatakan prestasi tersebut akan terus menjadi prioritas Kredivo.

"Intinya kami investasi di keamanan karena keamanan penting untuk meningkatkan kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun bisa runtuh dalam sekejap apabila ada data breach," ujar Akshay.


Kredivo mengatakan 92 juta penduduk dewasa di Indonesia belum tersentuh layanan finansial atau perbankan. Data tersebut ditemukan dalam Laporan e-Conomy SEA 2019 yang dilakukan oleh Google dan Temasek pada akhir 2019.

Saat ini Kredivo telah memiliki 1 juta pengguna. 60 persen di antaranya mendapatkan akses kredit formal pertama mereka dari Kredivo. Kredivo dalam tiga tahun juga telah mengevaluasi lebih dari tiga juta aplikasi pengguna dan telah mencairkan hampir 30 juta pinjaman.

Dalam laporan Fintech Report 2019 Daily Social, 63 persen responden menggunakan Kredivo. Total responden dalam laporan ini berjumlah 330 orang.

"Dalam beberapa tahun kami targetkan 10 juta pengguna di Kredivo," kata Akshay.

Ekspansi ke Filipina

Akshay kemudian mengatakan akan menggunakan pendanaan triliunan tersebut untuk berekspansi ke Filipina.

Akshay mengatakan setidaknya ekspansi akan dilakukan pada semester pertama 2020. Alasan Kredivo melakukan ekspansi di Filipina karena Filipina adalah negara kedua dengan jumlah masyarakat terbesar dari sisi yang dapat akses keuangan tetapi tidak lengkap (unbanked), dan tidak punya akses (underbanked).

"Mayoritas underbanked di Asia Tenggara itu ada di Indonesia, kedua terbesar adalah di Filipina. Maka dibutuhkan layanan finansial baik itu asuransi atau kredit," kata Akshay dalam wawancara eksklusif di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (4/12).

[Gambas:Video CNN]

Akshay mengatakan berdasarkan laporan Google Temasek, hampir ada 100 juta underbanked individual di Asia Tenggara. Oleh karena itu, ia mengatakan menyimpan pasar potensial bagi Kredivo.

"Filipina sangat mirip dengan Indonesia. Negara Lebih kecil dari Indonesia, degan populasi 70 juta, tapi memiliki persentase yang sama soal underbanked individual," ujar Akshay.

Akshay mengatakan ekspansi tidak akan memakan biaya besar dari pendanaan. Indonesia masih akan menjadi prioritas utama dan akan memakan pendanaan yang paling besar.

Ia mengatakan fokus pertama dari pendanaan akan digunakan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis di Indonesia.

Bagaimana pun, Indonesia masih dianggap merupakan core market dari Kredivo. Oleh karena itu, Kredivo akan terus memperkuat basis usaha di Indonesia.

Akshay mengatakan saat ini ekspansi di Filipina masih dalam tahap finalisasi. Ia mengatakan Kredivo juga akan bekerja dengan e-commerce lokal dan bank lokal di Filipina seperti yang telah dilakukan di Indonesia.

"Ekspansi hanya gunakan sedikit dari US$90 juta. Tujuan utama dari US$90 juta adalah percepat bisnis di Indonesia. Indonesia adalah core market, pendanaan utama adalah untuk akselerasi di Indonesia," kata Akshay.

(jnp/lav)