Secara year on year angka ini 11 persen lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk Negara Indonesia di kuartal ketiga 2019 sendiri, terdapat 2,26 persen pengguna yang terinfeksi ransomware.
Jumlah ini mengalami penurunan 0,01%, di mana 2,27% pengguna terinfeksi ransomware pada periode yang sama di tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tren Serangan Siber 2020 Versi Kaspersky |
Angka tersebut menandakan peningkatan sebesar pada kuartal ketiga 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini menandakan ketertarikan para pelaku kejahatan siber pada jenis malware tersebut sebagai sarana untuk memperkaya diri.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, Kaspersky juga mendeteksi malware yang bertujuan untuk mencuri sejumlah uang melalui akses online ke rekening bank terdaftar di sebanyak 197.559 komputer pengguna.
Enkripsi ransomware adalah malware yang menerapkan metode enkripsi canggih sehingga file tidak akan dapat didekripsi atau dibuka tanpa kunci unik yang dipegang oleh peretas.
Metode ini membuat pemilik perangkat yang terinfeksi, terjebak dengan perangkat yang terkunci. Untuk mendapatkan kunci dari peretas, pengguna akan diminta untuk membayar uang tebusan demi mendapatkan akses kembali menuju file.
Lihat juga:Ransomware Merajalela, Lagi! |