Indonesia Jadi Negara Favorit ke-23 Serangan Ransomware

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 12:31 WIB
Selama kuartal ketiga 2019, Kaspersky mendeteksi dan memblokir serangan ransomware eknripsi pada 229.643 pengguna produknya. ilustrasi serangan ransomware. (AFP PHOTO / DAMIEN MEYER)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kaspersky mengungkap Indonesia berada pada peringkat 23 sebagai negara yang paling sering terserang ransomware enkripsi. Selama kuartal ketiga 2019, Kaspersky mendeteksi dan memblokir serangan ransomware eknripsi pada 229.643 pengguna produk Kaspersky.

Secara year on year angka ini 11 persen lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk Negara Indonesia di kuartal ketiga 2019 sendiri, terdapat 2,26 persen pengguna yang terinfeksi ransomware.

Jumlah ini mengalami penurunan 0,01%, di mana 2,27% pengguna terinfeksi ransomware pada periode yang sama di tahun lalu.


Meskipun jumlah total pengguna yang terpengaruh mengalami sedikit penurunan, laporan menunjukkan bahwa jumlah modifikasi ransomware terbaru tumbuh dari 5.195 pada kuartal ketiga 2018 menjadi 13.138.


Angka tersebut menandakan peningkatan sebesar pada kuartal ketiga 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini menandakan ketertarikan para pelaku kejahatan siber pada jenis malware tersebut sebagai sarana untuk memperkaya diri.

Dalam laporan tersebut, Kaspersky juga mendeteksi dan memblokir 989.432.403 serangan berbahaya dari sumber online yang berlokasi di 200 negara. Angka ini bertumbuh empat persen dibandingkan Q3 2018.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, Kaspersky juga mendeteksi malware yang bertujuan untuk mencuri sejumlah uang melalui akses online ke rekening bank terdaftar di sebanyak 197.559 komputer pengguna.

Enkripsi ransomware adalah malware yang menerapkan metode enkripsi canggih sehingga file tidak akan dapat didekripsi atau dibuka tanpa kunci unik yang dipegang oleh peretas.

Metode ini membuat pemilik perangkat yang terinfeksi, terjebak dengan perangkat yang terkunci. Untuk mendapatkan kunci dari peretas, pengguna akan diminta untuk membayar uang tebusan demi mendapatkan akses kembali menuju file.

(jnp/DAL)