Apple dan Samsung Dianggap Lebih 'Aman' dari HP China

CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 09:55 WIB
Apple dan Samsung Dianggap Lebih 'Aman' dari HP China Ilustrasi toko ponsel. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ponsel-ponsel China dianggap lebih rentan terhadap eksploitasi privasi data pengguna dibanding ponsel asal Amerika Serikat merek Iphone atau Samsung asal Korea Selatan.

Pengamat keamanan dari Vaksin.com Alfons Tanujaya mengatakan model bisnis China selalu menekankan harga-harga murah yang dianggap menggoyang harga pasar.

"Hal ini memaksa perusahaan ponsel China untuk kreatif mencari cara menekan harga atau mendapatkan penghasilan tambahan di luar metode konvensional," kata Alfons saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (13/12).


Hal ini membuat vendor-vendor asal China menekan harga di berbagai aspek, khususnya aplikasi bawaan ponsel. Alfons mengungkapkan biasanya vendor China bahkan menerapkan metode bagi hasil dengan pengembang aplikasi demi mendapatkan pendapatan.
Hal ini terjadi karena vendor China kadang menjual ponsel di bawah harga modal, tapi tetap bisa mendapatkan untuk dari aplikasi bawaan.

"Pengembang aplikasi mendapatkan keuntungan dan sebagian di berikan ke vendor ponsel untuk menekan harga ponsel,"ujar Alfons.

Sebagai balas jasa, vendor ponsel akan memasukkan aplikasi yang diciptakan pengembang tersebut ke dalam semua ponsel sebelum didistribusikan.

Jadi pertama kali dihidupkan, ponsel-ponsel tersebut sudah mengandung malware di dalam source code OS ponsel tersebut.
[Gambas:Video CNN]
"Instalasi apps bawaan ponsel yang dalam banyak kasus memberikan ancaman privasi kepada pengguna ponsel," ujar Alfons.

Di sisi lain, Alfons mengatakan dari sisi sistem keamanan, Apple yang berbasis iOS memang lebih canggih dibandingkan ponsel Android. Tak hanya itu, kurasi toko digital milik Apple, App Store disebut lebih ketat dibandingkan toko digital miliki Google, Playstore.

"Secara de facto lebih sedikit malware di iTunes dibandingkan Playstore," ujar Alfons.

Alfons mengatakan Apple bahkan tak sembarangan memberikan data ke pihak berwajib. Akan tetapi, bukan berarti Apple tak berarti tak berkewajiban untuk memberikan data yang diminta pemerintah.

"Tetapi kalau diperintahkan pengadilan mereka harus berikan. Kita juga tidak tahu dan tidak ada jaminan kalau mereka tidak memberikan data secara diam-diam ke pemerintah Amerika Serikat," katanya.

Alfons menjelaskan contoh malware yang tersimpan di dalam kode OS ponsel Android adalah RottenSys. Malware ini menyamarkan dirinya sebagai aplikasi 'System WiFi Service

Agar tak terdeteksi, RottenSys tidak akan langsung menjalankan aksi serangan siber. Malware ini tidak mengandung konten jahat.

RottenSys sudah dirancang untuk berkomunikasi dengan server kontrolnya. Kemudian secara diam-diam mengunduh dan menjalankan komponen baru yang telah dipersiapkan. (jnp/lav)