Pengamat Ungkap Alasan Etnis Uighur Kembali Ramai di Medsos

Dini Nur Asih, CNN Indonesia | Selasa, 17/12/2019 13:13 WIB
Pengamat Ungkap Alasan Etnis Uighur Kembali Ramai di Medsos Etnis Muslim Uighur di Xinjiang sedang beraktivitas. (Foto: Greg Baker / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Riset Drone Emprit menunjukkan terjadi peningkatan percakapan soal Muslim Uighur di media sosial Twitter dalam seminggu terakhir.

Meningkatnya percakapan itu imbas laporan the Wall Street Journal menduga China menggelontorkan dana untuk 'membungkam' sejumlah ormas Islam di Indonesia terkait Uighur.

Dugaan tersebut praktis mendapat seruan dari netizen Indonesia sekaligus ramai-ramai membuat tagar #IndonesiaStandsWithUyghur di Twitter.





Salah satu analis Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan narasi terpopuler berasal dari cuitan pemain gelandang Arsenal yaitu Mesut Ozil di akun Twitter @MesutOzil1088 yang mendoakan etnis Muslim Uighur.

Lalu laporan WSJ (the Wall Street Journal) yang ditulis Rabu, 11 Desember itu berhasil membuat narasi 'vocational training center' atau pusat pelatihan kejuruan dan Uyghur 'living a happy live' atau menjalani hidup yang bahagia.



Selain itu, Drone Emprit pun mencatat sejumlah portal berita yang aktif memberitakan dugaan persekusi dan diskriminasi etnis Muslim Uighur di Xinjiang adalah CNN Indonesia, Moeslim Choice, Harian Aceh, dan Viva News.

Sementara topik yang paling banyak dibicarakan di media online yakni Muhammadiyah dan NU walaupun Muhammadiyah telah membantah disuap pemerintah China untuk tak menyerukan isu Uighur.



Tak lupa Ismail juga mengunggah laporan Drone Emprit setahun lalu yang menunjukkan Muhammadiyah merupakan salah satu ormas yang paling 'garang' menyuarakan keadilan untuk etnis Muslim Uighur.



Sedangkan narasi yang dibangun saat itu ialah soal kekejalam kamp konsentrasi untuk menampung satu juta warga Uighur dan diamnya dunia atas pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan beragama.



Dugaan persekusi dan diskriminasi etnis Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China telah berlangsung cukup lama. Pemerintah Tiongkok diduga menahan lebih dari satu juta etnis minoritas Muslim di kamp konsentrasi.

Laporan penahanan sewenang-wenang itu mencuat setelah kelompok pegiat hak asasi manusia, Human Rights Watch, merilis laporan pada September 2018 lalu.

Selain itu, Pemerintah China dikabarkan melarang penduduk Uighur dan Muslim lainnya di Xinjiang untuk menjalankan ibadah puasa. Larangan itu terutama berlaku bagi pegawai negeri sipil, guru, dan pelajar.

Sebab, pemerintah Komunis China di Xinjiang menganggap Xinjiang sebagai daerah di mana kelompok militan separatis tumbuh subur dan memicu kekacauan.

Masyarakat Uighur juga dilarang memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama Islam, termasuk nama 'Muhammad' dan 'Medina'. Pemerintah lokal juga diduga melarang penjualan makanan halal di penjuru wilayah itu sehingga mempersulit warga Uighur untuk mencari makanan dan minuman.

[Gambas:Video CNN] (din/mik)