Dana Riset Kecil, Teknologi Indonesia Tertinggal dari Korsel

CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 14:08 WIB
Dana Riset Kecil, Teknologi Indonesia Tertinggal dari Korsel Ilustrasi. Indonesia dan Korsel sama-sama miskin di tahun 1950, tapi alokasi dana riset yang besar membuat perkembangan teknologi Korsel jauh melesat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alokasi dana riset yang minim membuat kemajuan teknologi Indonesia berhasil disalip Korea Selatan (Korsel). Hal ini diungkap Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Telematika, Penyiaran dan Ristek Ilham Habibie.

Ilham mengatakan Korea menggelontorkan anggaran riset Korea Selatan yang mencapai 4,62 persen dari Produk Domestik Bruto-nya. Di sisi lain anggaran riset Indonesia baru mencapai 0,3 persen dari PDB.

"Sekitar empat persen PDB dari Korea Selatan mereka keluarkan untuk penelitan dan pengembangan. Angka ini sangat tinggi dan selalu bersaing dengan Israel," katanya saat acara Business Innovation Gathering (BIG) 2019 di LIPI Kamis (19/12).

Padahal pada tahun 1950an, menurut Ilham Indonesia dan Korea Selatan sama-sama merupakan negara miskin. Korea Selatan baru saja dilanda perang saudara dengan Korea Utara. Sedangkan Indonesia baru lima tahun mendapatkan kemerdekaan dari Jepang.


"Pertama Korea Selatan yang sadar bahwa riset dan inovasi harus dituangkan ke industri. Jadi industri hidup dari situ," ujar Ilham.

Kedua, produk dalam negeri hasil inovasi dalam negeri juga turut didukung oleh penggunaan produk lokal di Indonesia. Dukungan terhadap produk lokal ini mendukung tahapan komersialisasi dalam proses inovasi.

[Gambas:Video CNN]


"Bangsa Korea Selatan menggunakan mobil-mobil Korea Selatan. Jadi dukungan bangsa ke produk produk mereka sendiri sangat luar biasa," katanya.

Selain itu Ilham mengatakan terhambatnya riset dan inovasi di Indonesia justru juga disebabkan oleh status Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Ilham mengatakan banyak pengusaha di Indonesia yang punya kemampuan modal untuk melakukan pendanaan.

Akan tetapi, pengusaha ini lebih memilih untuk berinvestasi di sumber daya alam seperti pertambangan dan perkebunan daripada menghasilkan produk berdasarkan hasil riset inovasi.

"Kita ada kutukan negara kaya dengan sumber daya alam atau curse of natural resouces rich country," ujarnya.

Di sisi lain, negara-negara yang miskin sumber daya alam seperti Jepang dan Korea Selatan justru mau tidak mau mencari inovasi agar dapat mengembangkan negaranya.

"Negara seperti Korea, Jepang itu tidak punya pilihan. Kalau mau berkembang, dia harus mengandalkan nilai tambah sendiri yang dibuat sendiri," kata Ilham. (jnp/eks)