BSSN Sebut Implementasi 5G Berpotensi Percepat Pencurian Data

CNN Indonesia | Selasa, 24/12/2019 06:52 WIB
BSSN Sebut Implementasi 5G Berpotensi Percepat Pencurian Data Ilustrasi 5G. (CNN Indonesia/Jonathan Patrick).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menilai implementasi konektivitas 5G secara masif berpotensi mempercepat proses pencurian data.

Deputi Bidang Proteksi Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional BSSN Agung Nugraha mengungkapkan, dahulu pencurian data membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, dengan hadirnya 5G yang menawarkan kecepatan internet cepat, ia khawatir tren pencurian data akan terus terjadi.

"Kalau 5G sudah benar-benar diimplementasikan, kecepatan pencurian data juga semakin cepat. Tadinya pencurian data butuh waktu 2-3 jam, mungkin hanya beberapa detik saja sudah selesai," kata dia saat Forum Diskusi Telematika Akhir Tahun 2019 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (23/12).


"Oleh karena itu, perlu ada regulasi lalu kerja sama pemerintah dengan semua stakeholder," sambung Agung.


Pernyataan Agung itu senada dengan laporan perusahaan solusi keamanan siber Amerika. Palo Alto Networks menyebut celah keamanan konektivitas 5G terbilang rentan jika keamanan infrastruktur 4G belum dimaksimalkan dengan baik.

Menurut Field Chief Security Officer APAC Kevin O'Leary beberapa waktu lalu, jaringan 4G mudah disusupi serangan siber seperti malware, IP-spoofing, DDoS dan lainnya.

Menurut Kaspersky, berdasarkan laporan DDos kuartal 2 2019, jumlah serangan memang turun hingga 44 persen jika dibandingkan kuartal 1 2019. Tipe serangan terbanyak berupa lapisan aplikasi uang sulit dikelola dan dilindungi. Serangan tipe ini meningkat hingga 32 persen dibandingkan dengan kuartal 2 tahun sebelumnya.

Jenis serangan ini menargetkan fungsi atau API aplikasi tertentu, tidak hanya untuk menggunakan jaringan, tetapi juga sumber daya server. Mereka juga lebih sulit untuk dideteksi dan dilindungi, karena memiliki permintaan yang terlegitimasi.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, BSSN juga menyebut serangan Ransomware diprediksi bakal makin meningkat di tahun 2020. Serangan terhadap perangkat IoT (Internet of Things) kata Agung perlu menjadi perhatian.

"Kemudian IoT semakin interkoneksi, terutama pada sektor perbankan sekarang sudah open banking. Potensi serangannya harus diantisipasi," tuturnya.

Salah satu serangan yang banyak menimpa perangkat IoT ialah malware mirai botnet membidik perangkat yang berada di lingkungan enterprise maupun di rumah-rumah seperti sistem persentasi nirkabel, set-top-box, SD-WAN hingga perangkat kontrol rumah cerdas.

(din/lav)