Omzet 2019 Diprediksi Merosot, Huawei Fokus Bertahan Hidup

Lavinda, CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 13:43 WIB
Omzet 2019 Diprediksi Merosot, Huawei Fokus Bertahan Hidup Logo Huawei. (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina).
Jakarta, CNN Indonesia -- Raksasa telekomunikasi China Huawei mengatakan bertahan hidup adalah prioritas utama perseroan pada tahun depan. Hal itu disepakati setelah penjualan 2019 diperkirakan tidak memenuhi proyeksi dipicu pengenaan sanksi oleh Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari AFP, Chairman Eric Xu mengatakan Huawei memperkirakan pendapatan penjualan akan mencapai 850 miliar yuan sepanjang 2019 atau setara US$121 miliar.

Angka itu naik sekitar 18 persen dari tahun sebelumnya, tetapi jauh lebih rendah dibanding target semula. Pada awal 2019, perusahaan memperkirakan pendapatan penjualan bisa mencapai US$125 miliar.


Hal itu dipicu oleh langkah AS yang melarang Huawei bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam karena alasan keamanan nasional.


Dalam pesan Tahun Baru yang ditujukan kepada karyawan, Xu mengatakan pemerintah AS berada di tengah-tengah prinsip strategis dan jangka panjang terhadap perusahaan yang akan menciptakan lingkungan yang menantang bagi Huawei untuk bertahan dan berkembang.

"Bertahan hidup akan menjadi prioritas pertama kami pada tahun 2020," kata Xu, Chairman Huawei saat ini di bawah skema rotasi kepemimpinan perusahaan.

Dia mengatakan Huawei perlu berusaha sekuat tenaga untuk membangun ekosistem layanan selulernya. Hal itu sebagai solusi untuk mengganti aplikasi dan layanan Google yang tak lagi dapat digunakan Huawei.

"Hal itu memastikan bahwa kami dapat terus menjual ponsel cerdas kami di pasar luar negeri," ujar Xu seperti dikutip dari AFP.


Para pakar telekomunikasi menganggap Huawei merupakan pemimpin global dalam industri jaringan 5G, terutama dalam hal teknologi dan harga. Perusahaan menghadapi hambatan dan kecurigaan dari AS dan negara-negara asing lain yang mewaspadai hubungan dekat Huawei dengan pemerintah China.

Kepala intelijen AS menegaskan peralatan teknologi Huawei tidak dapat dipercaya sehingga menjadi ancaman bagi keamanan nasional. Tuduhan itu akhirnya ditepis perusahaan.

Didirikan pada 1987 oleh mantan insinyur Tentara Pembebasan Rakyat Ren Zhengfei, Huawei menjadi sorotan pada tahun lalu, ketika eksekutif senior Huawei Meng Wanzhou yang merupakan putri kandung Ren Zhengfei ditangkap di Kanada atas permintaan AS.

Saat itu, Washington ingin mengadili Meng karena dituduh berbohong kepada bank tentang pelanggaran sanksi Iran. Serangan balik terhadap Huawei hanya tumbuh sejak penangkapan Meng.

Washington telah melarang perusahaan-perusahaan AS menjual peralatan ke Huawei, mengunci korporasi raksasa ponsel pintar itu dari akses ke sistem operasi Google Android.

[Gambas:Video CNN]

Operator telekomunikasi Eropa, termasuk Telenor Norwegia dan Telia Swedia juga telah menyingkirkan Huawei sebagai pemasok untuk jaringan 5G. Alasannya, agen intelijen memperingatkan agar tidak bekerja dengan Huawei.

Sementara itu, Australia dan Jepang telah mengambil langkah-langkah untuk memblokir atau membatasi partisipasi perusahaan dalam peluncuran jaringan 5G secara ketat. Awal bulan ini, Perdana Menteri Boris Johnson juga mengisyaratkan bahwa Inggris akan mengikutinya.

Aturan China mengharuskan individu dan organisasi untuk membantu dan bekerja sama dengan upaya intelijen nasional.

Xu juga mengatakan keamanan siber (cybersecurity) dan privasi pengguna berada di prioritas mutlak dari agenda Huawei. Perusahaan juga disebut akan terus mematuhi semua hukum dan peraturan terkait di pasar tempat mereka beroperasi. (lav)