Menurut CEO NTT Hendra Lesmana, tak hanya menyasar kedua negara yang berkonflik, namun melebar ke sejumlah negara. Kendati demikian, Ia tak menyebutkan angka pasti berapa persen peningkatan yang terjadi.
"Memang meningkat [serangan siber], ada tujuan tertentu biasanya atau ada sesuatu yang ingin didapatkan. Bukan hanya satu negara tapi berbagai macam negara," tuturnya saat media briefing di Mood Coffee, Jakarta, Senin (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu dimaksudkan untuk mencari cara terbaik mana yang dapat menghindarkan Indonesia dari serangan siber.
Ia mengatakan agar Indonesia tidak terseret dalam serangan siber, masyarakat perlu menghindari pemakaian VPN (virtual private network) dari negara-negara yang sedang berkonflik beserta sekutunya.
[Gambas:Video CNN]
"Pernyataan Trump memperkuat perkiraan, saat ini sedang terjadi cyberwarfare antara kedua negara, yang kemungkinan besar diikuti oleh negara-negara lain maupun kelompok-kelompok tertentu," kata Pratama seperti dilaporkan Antara, Kamis (9/1).
"Kenapa tidak disarankan menggunakan IP negara berkonflik, hal ini untuk menghindari adanya serangan malware ke IP negara tertentu. Serangan malware masif bisa saja terjadi seperti saat wannacry dan nopetya hadir di pertengahan 2017," tambah Pratama. (jnp/mik)