Amankan Kartu SIM, BRTI Minta Pakai Pengenal Sidik Jari

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 17:08 WIB
Amankan Kartu SIM, BRTI Minta Pakai Pengenal Sidik Jari Ilustrasi. BRTI menyarankan agar operator menambah pengamanan registrasi dan penukaran kartu SIM dengan data biometrik seperti pengenalan sidik jari. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)  menyarankan agar operator bisa meningkatkan keamanan kartu SIM dengan menambahkan data biometrik pengguna, seperti sidik jari. Data ini bisa digunakan untuk proses registrasi dan penukaran kartu SIM.

Saran tersebut dilontarkan anggota BRTI I Ketut Prihadi Kresna Mukti terkait kasus pencurian kartu SIM dengan modus SIM swap. Pencurian ini menyebabkan rekening wartawan senior itu dibobol dan rugi ratusan juta rupiah.

"Kedepannya registrasi bisa biometrik. Dengan sidik jari, iris mata, face recognition (pengenalan wajah). Itu akan dibicarakan ke operator dan Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil)," kata Ketut kepada awak media di Kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Rabu (22/1).

Ketut mengatakan wacana tersebut akan dibicarakan lebih lanjut dengan operator karena BRTI baru dua kali membicarakan biometrik dengan operator. Data biometrik ini terekam di Dukcapil, sistem Dukcapil akan tersambung dengan sistem yang dikelola operator.


Ketut mengatakan BRTI akan memanggil keenam operator yang ada di Indonesia untuk mengevaluasi sistem SOP (standard operational procedure) mereka. Standar yang akan dievaluasi terkait prosedur yang dilakukan operator saat pelanggan melakukan registrasi hingga pergantian kartu SIM.

Ketut yakin para operator sesungguhnya telah memiliki SOP yang mengandung prinsip know your customer (KYC) dalam proses verifikasi data.

[Gambas:Video CNN]

Namun, menurut BRTI operator perlu menambahkan indikator-indikator verifikasi pengguna saat proses registrasi dan pergantian kartu. Selain KTP untuk proses verifikasi, operator juga harus bertanya hal-hal yang hanya diketahui oleh pengguna asli.

"Misalnya nomor telepon yang sering dihubungi, paket apa terakhir,  bayar pakai apa. Misalnya bisa juga butuh KK atau kartu kredit. Jadi tidak hanya satu identitas, banyak yang bisa dilihat," ujar Ketut.

Meskipun SOP sudah bagus, Ketut mengatakan akan sia-sia apabila implementasi tidak mengikuti SOP yang ada. Ketut mengakui evaluasi operator dilakukan untuk mengetahui apakah operator mengikuti SOP yang sudah ada. 

Apabila ada celah, BRTI dan operator bersama-sama akan merumuskan tambalan dari celah. Rumusan tersebut akan dijadikan standar bagi seluruh operator.

"Kami percaya SOP yang dilakukan operator sudah baik. Tapi buat kami harus evaluasi operator seluler, kita lihat implementasinya seperti apa. Misalnya dari 10 SOP, hanya 8 SOP yang diterapkan," ujar Ketut. (jnp/eks)