Bos Amazon Diduga Kena Spyware Pegasus yang Retas Khashoggi

CNN Indonesia | Minggu, 26/01/2020 13:16 WIB
Bos Amazon Diduga Kena Spyware Pegasus yang Retas Khashoggi WhatsApp Bos Amazon Jeff Bezos diretas. (MANDEL NGAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ponsel Bezos baru mengalami peretasan lewat WhatsApp. Ponsel Bezos diduga dikirim spyware oleh akun WhatsApp Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) pada 2018.
 
Pengamat keamanan siber dari Digital Forensic Indonesia Ruby Alamsyah meyakini spware yang digunakan oleh pelaku adalah Pegasus, spyware yang turut meretas jurnalis Jamal Khashoggi.

"Saya sangat yakin yang dituduhkan tim keamanan Bezos terhadap pihak Arab Saudi, kemungkinan besar juga gunakan software yang sama dengan Khashoggi," ujar Ruby kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/1).

Pada 2 Oktober 2018, terjadi kasus pembunuhan wartawan asal Arab Saudi Jamal Khashoggi. Programmer Amerika, Edward Snowden menduga Arab Saudi menggunakan spyware Pegasus untuk melacak kegiatan dan menguntit wartawan yang dibunuh di konsulatnya sendiri perwakilan Turki.



Ruby mengatakan Pegasus adalah spyware yang paling efektif dan kuat saat ini. Spyware ini disebut Ruby juga terus diperbarui oleh NSO Group untuk terus mencari celah di setiap pembaruan sistem keamanan.

NSO Group adalah produsen Pegasus, perusahaan juga dituduh meretas 1.400 ponsel oleh perusahaan induk WhatsApp, Facebook.

Bos Amazon Disusupi Spyware Pegasus yang Retas KhasoggiJamal Khashoggi. (MOHAMMED AL-SHAIKH / AFP)

"Dia (NSO) memiliki tim litbang (RnD) terus apakah ada celah di WhatsApp versi ini atau Facebook Messenger versi ini, atau celah di browser ini," ujar Ruby.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang pembunuhan di luar hukum dan kebebasan berpendapat, Agnes Callamard serta David Kaye, mengaitkan peristiwa tersebut dengan kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.

Bezos yang memiliki surat kabar The Washington Post diduga menjadi sasaran karena pemberitaan soal Khashoggi. Ketika Khashoggi masih hidup, dia menjadi kolumnis di surat kabar tersebut dan kerap mengkritik pemerintah Saudi yang dipimpin Raja Salman dan Pangeran Mohammed.

(jnp/DAL)