Pabrik Mobil dengan Robot tetap Butuh Pekerja Wanita

CNN Indonesia | Selasa, 04/02/2020 14:29 WIB
Pabrik Mobil dengan Robot tetap Butuh Pekerja Wanita Sejumlah karyawan dan teknisi PT Honda Prospect Motor (PT HPM) bertepuk tangan pada upacara pencapaian satu juta produksi di pabrik Honda di Karawang, Jabar, Senin (27/2). (ANTARA FOTO/Zarqoni Maksum)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku industri manufaktur otomotif tidak sepakat dengan pernyataan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia yang sempat menyatakan perkembangan teknologi seperti robot bakal membuat penyerapan tenaga kerja turun, khususnya bagi perempuan.

"Semakin hari, dunia berubah, suatu saat pekerja perempuan mungkin nanti tidak laku, diganti robot. Hati-hati kalian perempuan, ini tidak bisa dihindari, tenaga kerja sekarang banyak digantikan oleh teknologi," ujar Bahlil pada Rabu (29/1).

Pernyataan Bahlil itu sudah diklarifikasi pada Kamis (30/1). Dia mengatakan, "Teknologi sekarang semakin canggih. Tenaga-tenaga yang kemampuannya rendah itu bisa digantikan dengan robot. Itu sebenarnya. Saya hanya bercanda saja di situ. Ini sudah terjadi. Mau laki-laki mau perempuan."


Business Innovation & Sales Marketing Director Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy mengatakan kemajuan teknologi bukan berarti menggantikan tenaga manusia, apalagi mengerucut hanya pada wanita.

"Pengaruh kemajuan teknologi tidak selalu berarti menggeser tenaga kerja manusia, tapi mengubah pembagian kerja antara robot dan manusia untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mempertahankan kualitas," kata Yusak melalui pesan singkat, Jumat (31/1).

"Kalau di Honda, kami juga memperlakukan setara sesuai dengan fungsi dan profesionalisme masing-masing," katanya lagi.

Yusak memaparkan saat ini di pabrik Honda pihaknya memiliki 5.000 karyawan, sementara 10 persen di antaranya wanita. Wanita disebut Yusak tetap memiliki bagian penting dalam pekerjaan memproduksi mobil.

[Gambas:Video CNN]

"Di pabrik Honda, teknologi robotik membantu untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi. Tapi pekerja manusia baik pria dan wanita masih tetap diperlukan di beberapa bagian sehingga tidak seluruhnya digantikan teknologi robotik," ucap Yusak.

Wanita yang bekerja di pabrik Honda mengisi berbagai departemen, misal pengecekan kualitas mobil, kontrol produksi, material servis, kualitas komponen, dan perencanaan produk.

Sementara pekerjaan yang diambil teknologi otomatisasi atau robot seperti stamping, pengelasan, pengecatan, perakitan, dan inspeksi akhir. Menurut Yusak pekerjaan yang diambil robot berkaitan dengan akurasi tinggi.

"Ya tapi hampir di semua area produksi ada karyawan wanitanya," ucap dia.


Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai masa depan wanita pekerja mungkin saja bergeser, tapi itu bukan lantaran ada penggunaan robot yang menggantikan.

Bob mengatakan wanita mungkin saja lebih memilih pekerjaan paruh waktu atau tidak terikat jam kerja seperti di pabrik.

"Butuh pekerjaan yang sifatnya paruh waktu atau jam-jaman," kata Bob.

Toyota kini mempekerjakan sedikitnya 7.000 karyawan, sementara lima persennya wanita.

Toyota sebelumnya pernah menargetkan penggunaan robot di pabrik mereka meningkat 40 persen dari sebelumnya 20 persen pada bagian pengelasan. Toyota menjamin kenaikan otomatisasi tak mengurangi jumlah pegawai manusia, malah keduanya harus berjalan beriringan.

Menurut Toyota pekerja manusia yang harus ditingkatkan dari segi kualitas dengan begitu dapat sekaligus mengoperasikan dan memperbaiki robot-robot jika sewaktu-waktu ada kerusakan. Bila sudah seperti itu dikatakan perusahaan bisa berhemat karena tidak perlu memanggil tenaga ahli dari luar negeri. (ryh/fea)