Angka ini unggul jauh dibandingkan pengguna aktif bulanan Facebook Messenger (1,3 miliar) dan WeChat (1,1 miliar). Akan tetapi, kepopuleran tersebut justru membuat WhatsApp sering ditargetkan oleh para peratas.
"Ini hukum ekonomi. Makin populer suatu aplikasi, usaha meretas aplikasi akan makin tinggi. Sama dengan OS Windows yang dulu sumber virus lalu sekarang posisinya digantikan oleh Android," ujar Pengamat Keamanan Siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang namanya ciptaan manusia berupa peranti lunak itu tidak ada yang sempurna karena manusia itu tidak sempurna. Maka selalu akan ditemui celah keamanan. Itu yang dieksploitasi," ujar Alfons.
[Gambas:Video CNN]
"Silakan saja pakai messaging lain, saya yakin kelemahannya tidak kalah banyak dengan WhatsApp," katanya.
Dihubungi terpisah, Direktur Pengendalian Informasi, Investigasi dan Forensik Digital BSSN Brigjen TNI Bondan Widiawan juga setuju WhatsApp menjadi incaran utama peretas karena memiliki jumlah pengguna yang paling besar.
"Dengan tingginya penetrasi pengguna WhatsApp tersebut tentunya juga membuka peluang kerawanan dari perspektif keamanan siber," kata Bondan.