Musim Panas Diklaim Bisa Bunuh Virus Corona di China

jnp, CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 06:58 WIB
Penyebaran virus corona diduga berkaitan dengan kondisi iklim di dunia dan disebut bisa menghilang dengan meningkatnya suhu. Ilustrasi virus corona. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Virus Corona 2019 (2019-nCoV) yang berasal dari Wuhan, China diprediksi bisa menghilang menjelang musim panas. Penyebaran virus corona diduga berkaitan dengan kondisi iklim di dunia.

Dilansir dari Channel News Asia, Peneliti dari Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin National University of Singapore, Jyoti Somani dan Paul Tambyah mengatakan virus corona bisa menghilang seiring dengan meningkatnya suhu di China menjelang musim panas.

Asumsi in berasal dari teori bahwa mewabahnya penyakit 2019-nCoV memiliki pola musiman penyakit influenza dan SARS. Menjelang musim panas, kasus-kasus penyakit jenis ini menurun pada Mei ketika suhu di China memanas.


Di negara-negara dengan iklim sedang seperti China dan Amerka Serikat, musim flu biasanya dimulai bulan Desember dengan puncaknya pada Januari atau Februari. Setelah Februari, kasus flu dicatat berkurang.


SARS menghilang di musim panas utara tahun 2003 dan tidak muncul lagi secara signifikan sejak itu.

Musim influenza dan virus pernapasan lainnya di negara-negara dianggap terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi orang ke orang, hingga terkait dengan iklim seperti kekeringan udara, suhu udara sekitar, dan kemungkinan radiasi matahari ultra violet.

Faktor manusia juga dapat berkontribusi terhadap penyebaran influenza selama musim dingin karena lebih banyak waktu dapat dihabiskan di dalam ruangan, mungkin dalam hubungan yang lebih dekat dengan orang lain.

[Gambas:Video CNN]

Somani dan Tambyah 2019-nCoV tampaknya mirip dengan virus pernapasan lainnya seperti influenza atau flu biasa (rhinovirus), yang disebarkan oleh air liur atau dahak dari satu orang ke orang lain baik secara langsung dengan batuk atau bersin atau melalui kontak.

Penyebaran terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh hidung, mulut atau matanya, sehingga secara tidak sengaja menularkan virus.

Bahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa tetesan pernapasan ini menyebar lebih jauh ketika udaranya dingin dan kering. Penelitian yang dilakukan bertahun-tahun yang lalu menunjukkan bahwa virus corona 'biasa' (yang merupakan salah satu penyebab flu biasa) dapat bertahan di permukaan yang lebih panas.

Virus corona disebutkan bisa bertahan 30 kali lebih lama di tempat-tempat dengan suhu 6 derajat celcius dibandingkan dengan tempat yang suhunya mencapai 20 derajat celcius.


Asia Tenggara Dengan Iklim Tropis Kuat Lawan Anti Virus Dibandingkan China

Baru-baru ini, para ilmuwan dari Universitas Hong Kong (HKU) termasuk Profesor Malik Peiris dan Profesor Seto Wing Hong menunjukkan bahwa suhu rendah dan kelembaban relatif yang rendah memungkinkan virus SARS bertahan lebih lama daripada suhu dan kelembaban tinggi.

Tim HKU berpendapat bahwa ini mungkin alasan mengapa negara-negara Asia Tenggara yang hangat dan lembab tidak memiliki wabah SARS. 

Jadi, seperti halnya dengan influenza, 2019-nCoV dapat melambat ketika matahari mulai bersinar lebih banyak dan cuaca menghangat di negara-negara beriklim sedang dan subtropis.



(DAL)