Promo Ojol Disebut Berkurang, Pendapatan Pengemudi Turun

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 08:42 WIB
Promo Ojol Disebut Berkurang, Pendapatan Pengemudi Turun pendapat berkurang imbas promo berkurang. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan pendapat berkurang meski ada kenaikan tarif yang ditetapkan sejak 2019. Penyebab pendapatan menurun imbas dari promo diskon yang tak lagi disebar perusahaan.

Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) ojek online Indonesia Igun Wicaksono mencatat sejak beberapa waktu terakhir pengemudi ojol sudah mengeluhkan penurunan pendapatan. Dari sisi pengemudi ojol, promo tarif tersebut sangat membantu pendapatan mereka.

"Iya promo mulai dikurangi, driver pada mengeluh juga," kata Igun kepada CNNIndonesia.com, Kamis (6/1).


Ia mengatakan layanan promo berkurang bukan cuma jasa pesan antar makanan, tetapi juga untuk layanan antar penumpang. Pantauan Garda promo berkurang 20 persen sehingga disebut menurunkan minat masyarakat menggunakan layanan daring itu.

Igun sendiri masih mereka-reka besaran penurunan pendapatan imbas layanan promo ojol berkurang dalam beberapa waktu terakhir.

Keluhan juga datang dari netizen. Akun @roynaldoremi menyindir perusahaan transportasi daring yang sedang tidak sebar promo. Sebab Dari sisi pengguna ojol, promo tarif tersebut sangat membantu menghemat pengeluaran mereka.



Akun lain, yaitu @plushiejjaemin juga merasa kesal tidak ada promo seperti yang biasa ia dapatkan selama ini.



Netizen lainnya, @warmestvillain mengatakan sudah saatnya manfaat jalan kaki karena ojol minim promo antar dan jemput.



[Gambas:Video CNN]

Di satu sisi banyaknya jumlah pengemudi disebut semakin meningkatkan persaingan semakin ketat.

Ia memberi contoh biasanya satu pengemudi bisa mendapat 10-15 order dengan jam kerja kurang lebih 12 jam. Namun kini untuk memperoleh 10 order dengan jam kerja yang sama dinilai sangat sulit.

"Sehingga penurunan order berdampak pada penurunan pendapatan yang bisa anjlok 30-50 persen dari sebelumnya," katanya.

Ia pun berharap perusahaan kembali meramu strategi, setidaknya dapat menyeimbangkan antara jumlah pengemudi di lapangan dengan permintaan.

"Karena pendapatan driver makin berkurang akibat makin banyaknya driver sehingga persaingan antar order makin ketat," ucap Igun. (ryh/mik)