PBB: Wanita Terancam Hilang Pekerjaan di Bidang Teknologi

CNN Indonesia | Selasa, 11/02/2020 15:12 WIB
Organisasi Buruh Internasional PBB mengungkapkan ancaman hilangnya kesempatan kerja bagi wanita di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Ilustrasi wanita di pabrik. (Dok. Xiaomi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) mengungkapkan ancaman hilangnya kesempatan pekerjaan pada perempuan dalam bidang sains, teknologi, teknik (engineering), dan matematika (STEM) di masa depan.
 
Country Director ILO, Michiko Miyamoto, menyebut peran perempuan dalam industri STEM sangat penting demi memastikan perempuan dan anak perempuan tidak tertinggal dalam perubahan cepat yang terjadi di dunia ketenagakerjaan.
 
"Kemajuan teknologi seperti otomatisasi dan robotik akan membawa perubahan besar dalam ketenagakerjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dalam dua dekade ke depan," kata Miyamoto seperti dilaporkan Antara, Minggu (9/2).
 
Menurut data Organisasi Buruh Internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, sekitar 60 juta, atau 56 persen, pekerja di Indonesia menghadapi risiko akan tergantikan oleh otomatisasi atau mesin. Miyamoto mengaku dari fakta 56 persen total pekerja, perempuan yang paling banyak terancam.

 
"Perempuan umumnya bekerja di jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan sains, teknologi, teknik, dan matematika, jadi paling beresiko terhadap otomatisasi di semua industri 1 sampai 2 kali lebih besar," ujarnya.
 
Oleh karena itu, ILO mendorong lebih banyak partisipasi perempuan dalam bidang STEM, mengingat teknologi memiliki peran kunci dalam mencapai pekerjaan yang layak dan kesetaraan gender.
 
Ilmuwan perempuan dari Galway-Mayo Institute of Technology Irlandia, Fiona Malone kemudian pengalaman kerja sebagai insinyur biomedis mengaku berminat untuk mempromosikan perempuan dalam STEM, khususnya generasi mudanya. Namun ia mengaku bukan berarti memaksakan jalur industri itu pada perempuan.
 
"Kita tidak menjejalkan STEM kepada perempuan muda, tetapi kita memberikan mereka kesempatan untuk mengetahui bahwa jalur karir ini terbuka, dan apabila mereka tidak terlalu berprestasi di satu bidang STEM, contohnya matematika, bukan berarti mereka tak bisa menjadi teknisi laboratorium," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]


Sebelumnya, Kepala Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia yang sempat menyatakan perkembangan teknologi seperti robot bakal membuat penyerapan tenaga kerja turun, khususnya bagi perempuan. Namun, ia kemudian meralat pernyataannya tersebut.

Menanggapi hal itu, perusahaan asal China Oppo menyebut meski pabrik produksi ponselnya telah menggunakan teknologi robot, tapi tenaga manusia tetap diperlukan. Menurut Oppo, robot tak akan menggantikan tenaga kerja manusia baik pria maupun wanita.

Public Relation Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto mengatakan tenaga kerja di pabrik ponsel Oppo di Tangerang bahkan didominasi oleh wanita. Ia mengatakan wanita cenderung lebih teliti dibandingkan pria, oleh karena itu wanita ditempatkan di lini produksi dan pengendalian kualitas.


Senada, Business Innovation & Sales Marketing Director Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy mengatakan kemajuan teknologi bukan berarti menggantikan tenaga manusia, apalagi mengerucut hanya pada perempuan.

Yusak memaparkan saat ini di pabrik Honda pihaknya memiliki 5.000 karyawan, sementara 10 persen di antaranya perempuan. Perempuan disebut Yusak tetap memiliki bagian penting dalam pekerjaan memproduksi mobil.

Wanita yang bekerja di pabrik Honda mengisi berbagai departemen, misal pengecekan kualitas mobil, kontrol produksi, material servis, kualitas komponen, dan perencanaan produk.

(antara/DAL)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK