Fakta Roket Simorgh Iran yang Gagal Bawa Satelit ke Orbit

CNN Indonesia | Selasa, 11/02/2020 17:40 WIB
Fakta Roket Simorgh Iran yang Gagal Bawa Satelit ke Orbit Roket Simorgh Iran. (ATTA KENARE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran dikabarkan gagal menempatkan satelit Zafar ke orbit setelah roket Simorgh gagal mencapai kecepatan yang diperlukan untuk menaruh satelit ke orbit.

Melansir Defense Update, Simorgh yang dikenal dengan Safir-2 merupakan roket yang dirancang untuk dapat membawa muatan sebesar 350 kilogram ke orbit. Simorgh memiliki panjang 27 meter, lebar 2,5 meter, dan berat 87 ton.

Mirip Roket Korea Utara


Badan intelijen Amerika Serikat menyakini Simorgh merupakan roket yang dibuat atas dasar teknologi roket Hwasong-1 atau Nodong-1 buatan Korea Utara.

Melansir Missile Threath, Simorgh merupakan kendaraan peluncur ruang angkasa (SLV) berbahan bakar cair yang mampu terbang hingga ketinggian 500 kilometer. Simorgh menggunakan mesin dari rudal balistik jarak menengah Shahab-3 yang dibuat oleh perusahaan pertahanan Iran (DIO).


Sedangkan Nodong merupakan rudal balistik seperti Shahab-3 yang menggunakan bahan bakar cair. Dalam peluncuran September 2016, Nodong dapat terbang hingga jarak 1.000 km. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa Korut menerima bantuan dari ilmuwan Rusia dan Cina saat membuat rudal tersebut.

Dua Kali Gagal Uji Penerbangan

Simorgh diketahui pernah melakukan uji penerbangan sebelum akhirnya gagal membawa satelit Zafar menuju orbit. Namun, kedua uji penerbangan tersebut diketaui juga mengalami kegagalan.

[Gambas:Video CNN]

Pada bulan April 2016 atau pada peluncuran perdananya, Simorgh diketahui gagal melaksanakan uji penerbangan suborbital.

Sedangkan kegagalan kedua terjadi pada Juli 2017. Sumorgh yang meluncur dari Pusat Antariksa Imam Khomeini mengalami kegagagalan katastropik dan meledak sebelum mencapai ruang angkasa. Tidak ada satelit yang dibawa saat peluncuran tersebut.

Roket Kedua

Simorgh merupakan roket SLV kedua dalam rencana mandiri Iran dalam menempatkan satelit ke luar angkasa. Iran diketahui memulai misi mandirinya itu dengan membentuk Iranian Space Agency (ISA) pada tahun 2004.

Sebelum meluncurkan Sumorgh, Iran diketahui telah membuat sebuah roket bernama Safir. Meski gagal dalam uji peluncuran perdana, Safir akhirnya mampu menaruh satelit pertamanya di orbit pada tahun 2019.

Hal itu sekaligus menempatkan Iran sebagai negara kesembilan yang mampu menempatkan satelit ke orbit dengan teknologi sendiri.

(jps/DAL)