Edukasi & Fitur

Baterai Mobil Hibrida Rentan Banjir, Risiko Rugi Rp50 Juta

CNN Indonesia | Rabu, 12/02/2020 12:47 WIB
Baterai Mobil Hibrida Rentan Banjir, Risiko Rugi Rp50 Juta Baterai mobil listrik. (Bill Pugliano/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Populasi kendaraan listrik terbanyak di Indonesia berada di Jakarta, sementara ibu kota belakangan lagi langganan kebanjiran. Pengguna mobil hybrid yang menggendong baterai disarankan menghindari risiko terendam banjir pasalnya komponen itu rentan air dan bila harus diganti harganya mencapai puluhan juta rupiah.

Service Head Auto2000 Jayakarta Hendra Leksmono menjelaskan baterai merupakan komponen yang sangat rentan air. Pada mobil hybrid dia bilang lokasi baterai umumnya di area bagasi atau di bawah jok baris kedua.


Mengingat letak baterai dekat lantai mobil yang berarti dekat dengan permukaan jalan, batas aman mobil hybrid melintasi genangan disebut cuma sampai ketinggian setengah roda.


Kerentanan mobil hybrid soal baterai ini lebih riskan ketimbang mobil konvensional yang umumnya membawa baterai (aki) berukuran lebih kecil di posisi lebih tinggi.

Hendra mengatakan baterai mobil hybrid rentan rusak bila terendam banjir sebab kerjanya selalu aktif.

"Karena baterai itu aktif selalu. Misal untuk alarm. Mesin mati tapi sistem elektrik mengalir. Lalu materialnya nikel dan metal yang kalau terkena air memang beresiko," ucap Hendra di Glodok, Jakarta Barat, Rabu (12/2).

"Kalau sudah terendam mobil hybrid biasanya diganti karena rusak," kata dia lagi.


Jenis Kerusakan

Usai terendam banjir, Hendra mengatakan baterai perlu dianalisa kerusakannya menggunakan perangkat komputer. Hal ini dilakukan buat menentukan kerusakan baterai statusnya menyeluruh atau hanya sebagian sel.

"Baterai hybrid Toyota misalnya Camry ada 12 sel. Itu kalau rusak satu ya masih 85 persen berarti. Tapi entar dicek dulu," katanya.

Kata Hendra bila baterai mesti diganti sepenuhnya butuh biaya puluhan juta rupiah.

"Kalau baterai hybrid itu misalnya Camry Rp50 juta, C-HR baterainya kurang lebih sama. Baterai juga harus inden dulu kami pesan ke APM," kata Hendra. (ryh/fea)