Apple diketahui memiliki fasilitas produksi cukup besar berbasis di China yang menjadi negara awal penyebaran virus corona.
Pada akhir Januari, Apple memperkirakan pendapatan US$63 miliar hingga US$67 miliar untuk kuartal I yang berakhir pada Maret. Perusahaan tidak memberikan perkiraan penurunan pendapatan baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pekerjaan akan segera kembali bergulir tetapi kami mengalami pengembalian yang lebih lambat ke kondisi normal," kata juru bicara Apple kepada CNN.
Lebih lanjut, Apple menyebut pihaknya akan mulai membuka kembali kantor dan toko mereka di China secara bertahap.
Sebelumnya Apple memutuskan untuk menutup sementara kantor dan toko di China hingga 9 Februari 2020.
China merupakan salah satu pasar utama produk Apple. Sepanjang 2019, sebanyak 3,2 juta perangkat iPhone telah beredar di negara Tirai Bambu itu. Angka ini naik dibanding 2018, atau Apple hanya mendistribusikan 2,7 juta unit iPhone.
Penurunan saham Apple juga diperkirakan menghapus hampir US$30 miliar dari kapitalisasi pasarnya, yang hampir mendekati US%1,5 triliun. Saham perusahaan diperdagangkan turun menjadi US$318,74.
Namun, beberapa broker Wall Street menyebut pembaruan perkiraan Apple sebagai "hambatan jangka pendek," dan mengatakan perusahaan berkinerja kuat di luar China dan peluncuran telepon 5G akhir tahun ini akan lebih meningkatkan penjualan dilansir Antara.
[Gambas:Video CNN]
Samsung bertahan di tengah wabah virus corona
Seorang nara hubung yang mengetahui persis rantai pasokan perangkat Samsung Electronics mengatakan perusahaan berada di posisi yang menguntungkan dibanding para pesaingnya.
Sebab, Samsung tidak menitik beratkan pasar mereka di China.
"Samsung diposisikan lebih baik dibanding para pesaingnya seperti Huawei dan Apple. Kami merasa beruntung kami dapat lolos dari risiko [efek wabah virus corona pendapatan menurun]," kata dia dikutip dari Business Insider. (din/mik)