Cuaca Ekstrem, Fenomena Salju 'Darah' Muncul di Antartika

CNN Indonesia | Rabu, 04/03/2020 20:19 WIB
Cuaca Ekstrem, Fenomena Salju 'Darah' Muncul di Antartika Ilustrasi es di Antartika. (Istockphoto/ShutterOK)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena aneh terjadi di Pulau Galindez, lepas pantai Semenanjung paling utara Antartika. Di kawasan tersebut, lapisan es yang biasanya terlihat putih berubah menjadi merah seperti darah.

Melansir Live Science, fenomena yang dikatakan oleh peneliti sebagai 'blood snow' terjadi sejak musim panas berlangsung di Antartika. Musim panas kali ini terbilang ekstrim sehingga mampu melelehkan gletser.

Peneliti menyampaikan fenomena salju berdarah berasal dari sejenis ganggang berpigmen merah yang disebut Chlamydomonas Nivalis yang bersembunyi di ladang salju dan pegunungan di seluruh dunia.

Ganggang itu tumbuh subur di air yang membeku dan tertidur di salju dan es pada musim dining. Ketika musim panas tiba dan salju mencair, ganggang itu mekar, menyebarkan spora merah seperti bunga.


Peneliti menyampaikan warna merah fenomena ini berasal dari karoten di kloroplas alga, pigmen yang sama yang membuat labu dan wortel berwarna oranye.

Selain rona merahnya, pigmen itu juga menyerap panas dan melindungi alga dari sinar ultraviolet sehingga memungkinkan organisme itu berjemur di bawah matahari musim panas tanpa risiko mutasi genetik.

Keuntungan yang diperoleh alga dari pigmen itu ternyata tidak menguntungkan bagi es di Antartika. Menurut peneliti Ukraina, kembang biak alga karena pigmen itu membuat lapisan es mencair karena panas.


[Gambas:Video CNN]

"Bunga-bunga salju (alga) berkontribusi terhadap perubahan iklim. Karena banyak warna merah, salju memantulkan lebih sedikit sinar matahari dan meleleh lebih cepat. Sebagai akibatnya, ia menghasilkan lebih banyak ganggang yang lebih terang," ungkap para peneliti.

Peneliti berkata es semakin cepat mencair ketiak ganggang semakin cepat menyerap panas. Semakin banyak es yang mencair, semakin cepat ganggang dapat menyebar. Situasi itu menyebabkan lebih banyak pemanasan, lebih banyak pencairan, dan lebih banyak ganggang mekar.

Fenomena yang terjadi di Semenanjung Antartika ternyata bukan hal baru karena sudah ada sejak jutaan tahun lalu. Akan tetapi, perubahan iklim mendorong alga tumbuh lebih banyak dan membuat es Antartika lebih cepat mencair.

Melansir Futurism, ganggang yang berkembang menyebabkan laut pantai kota Spanyol diselimuti oleh busa pada bulan Januari. Ganggang serupa yang mekar bahkan menyebabkan pantai di sekitar pulau di Laut Cina Timur bersinar biru.

(jps/DAL)