Gelombang Panas Akibatkan Seperempat Es Antartika Mencair

CNN Indonesia | Rabu, 26/02/2020 06:44 WIB
Gelombang Panas Akibatkan Seperempat Es Antartika Mencair Ilustrasi. (Foto: AFP Forum)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelombang panas pada awal Februari 2020 telah melenyapkan es di salah satu pulau di ujung utara benua Antartika. Gambar-gambar baru NASA mengungkapkan bahwa hampir seperempat lapisan salju di Antartika di pulau itu mencair akibat fenomena yang berlangsung selama sembilan hari itu.

Melansir CNN, NASA mempublikasikan gambar Pulang Elang yang berada di semenanjung timur laut Benua Antartika pada awal dan akhir bulan ini. Dalam gambar itu, gelombang panas telah membuat es yang menyelimuti pulau itu mencair.

Earth Observatory NASA menyampaikan suhu gelombang panas yang terjadi selama sembilan hari di Antartika mencapai 64,9 derajat Fahrenheit. Akibatnya, 4 inci lapisan salju Pulau Elang meleleh atau sekitar 20 persen dari total akumulasi salju musiman di pulau itu.



"Saya belum melihat kolam lelehan berkembang dengan cepat di Antartika. Anda melihat peristiwa mencair semacam ini di Alaska dan Greenland, tetapi tidak biasanya di Antartika," kata Mauri Pelto, seorang ahli geologi di Nichols College, Massachusetts.

Pelto mengatakan badai menyebabkan timbulnya gelombang panas di Antartika. Namun, dia berkata fenomena melelehnya es di benua terdingin di bumi itu sangat jarang terjadi, bahkan saat musim panas.

Dia menerangkan gelombang panas di Antartika adalah hasil dari suhu tinggi yang berkelanjutan, yang hampir tidak pernah terjadi di benua itu sampai abad ke-21. Fenomena itu adalah jenis peristiwa cuaca yang semakin umum terjadi seiring meningkatnya suhu global.

[Gambas:Video CNN]

NASA melaporkan Antartika sebelumnya terlindungi suhu tinggi karena angin kencang yang melintasi di belahan Bumi Selatan. Akan tetapi, angin kencang itu tidak muncul pada bulan ini.

Organisasi Meteorologi Dunia menyampaikan es di Antartika telah mencair akibat polusi yang memerangkap panas yang dibuat oleh manusia. Organisasi itu memperingatkan naiknya permukaan laut bisa menjadi bencana bagi jutaan orang yang tinggal di sepanjang pantai dunia. (panji/asa)