Perusahaan tersebut berencana menjual 98,59 persen saham di Grindr ke San Vicente Acquisition, sebuah perusahaan induk yang berbasis di negara bagian Delaware, Amerika Serikat.
Dikutip dari AFP, Sabtu (7/3), Beijing Kunlun memutuskan menjual aplikasi kencan khusus kalangan LGBT karena mendapat tekanan dari otoritas AS yang khawatir soal penyalahgunaan data para pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Blued Berhentikan Sementara Layanan di China |
Grindr sebelumnya dituduh melakukan pengelolaan data yang tidak benar di bawah kepemilikan Beijing Kunlun.
[Gambas:Video CNN]
Aplikasi itu disebut telah melanggar peraturan privasi Uni Eropa dengan membagikan data GPS, usia, dan jenis kelamin penggunanya kepada perusahaan pihak ketiga untuk membantu pencapaian target iklan mereka.
Organisasi nirlaba yang dibiayai pemerintah, Dewan Konsumen Norwegia (NCC), dalam laporannya berjudul 'Out of Control' menyebut pembagian data ini secara implisit mengungkapkan orientasi seksual pengguna.
Hal itu ditemukan berdasarkan penelitian atas penggunaan data pribadi oleh 10 aplikasi populer. Kesimpulannya, industri periklanan "secara sistematis melanggar hukum".
"Ini adalah pelanggaran serius terhadap Hak Privasi Uni Eropa," cetusnya.
Sementara, pihak Beijing Kunlun Tech sendiri, kepada The New York Times, masih enggan berkomentar dengan dalih belum membaca laporan itu.
(dmi/arh)