Corona Diduga Bertahan di Udara, WHO Buat Protokol Staf Medis

CNN Indonesia | Senin, 23/03/2020 15:43 WIB
Rencana WHO menyusul temuan penelitian yang menyebut bahwa virus corona baru bisa bertahan hidup di ruangan  hingga beberapa jam. Ilustrasi virus corona. (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bakal membuat protokol pencegahan penularan virus corona Covid-19 bagi staf medis di rumah sakit. Rencana itu menyusul temuan penelitian yang menyebut bahwa virus corona baru bisa bertahan hidup di udara ruangan beraerosol hingga beberapa jam.
 
Kepala unit penyakit dan zoonosis WHO Maria Van Kerkhove mengatakan temuan awal menyebutkan Covid-19 menular melalui tetesan cairan saat orang yang terinfeksi bersin atau batuk. Akan tetapi, prosedur di RS yang menghasilkan aerosol dapat membuat partikel Covid-19 bertahan di udara.
 
"Ketika Anda melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol seperti di fasilitas perawatan medis, Anda memiliki kemungkinan menciptakan partikel-partikel aerosolize, yang berarti Covid-19 dapat tinggal di udara sedikit lebih lama," ujar Kerkhove melansir CNBC.
 
Kerkhove menuturkan petugas medis sangat penting mengambil tindakan pencegahan ketika menangani pasien positif Covid-19.

Otoritas kesehatan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan Covid-19 menyebar melalui kontak manusia-ke-manusia lewat butiran-butiran yang dibawa ketika bersin dan batuk, serta kuman yang tertinggal pada benda mati.

Virus corona dapat melayang di udara namun tergantung pada beberapa faktor cuaca, seperti panas dan kelembaban.
 
Kerkhove mengatakan pejabat kesehatan mengetahui beberapa penelitian di sejumlah negara melihat kondisi lingkungan yang berbeda dapat membuat Covid-19 bertahan.


Para ilmuwan secara khusus melihat bagaimana kelembaban, suhu, dan pencahayaan ultraviolet mempengaruhi penyakit, serta melihat berapa lama virus itu hidup di
permukaan benda.

[Gambas:Video CNN]
 
Pejabat kesehatan merekomendasikan staf medis memakai masker N95 karena mampu menyaring sekitar 95 persen partikel cair atau udara.
 
"Di fasilitas layanan kesehatan, kami memastikan petugas layanan kesehatan menggunakan tindakan pencegahan," ujarnya.
 
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa ada peningkatan kasus Covid-19 yang signifikan selama seminggu terakhir. Namun, mereka belum melihat adanya respon yang tepat,seperti isolasi hingga pengujian.
 
"Kami memiliki pesan sederhana untuk semua negara, tes, tes, dan tes. Uji setiap kasus yang dicurigai, jika mereka positif, isolasi mereka dan cari tahu dengan siapa saja mereka telah menjalin kontak dalam dua hari sebelum mereka mengembangkan gejala dan menguji orang-orang itu," kata Tedros.
 
Melansir New York Post, Kerkhove mengatakan orang biasa tidak perlu khawatir. Akan tetapi, staf medis mungkin rentan ketika melakukan prosedur seperti intubasi, di mana tabung diletakkan di tenggorokan pasien dan masuk ke jalan napas untuk membantu bernafas.

(jps/DAL)