APM Respons Jokowi Longgarkan Cicilan Motor Satu Tahun

CNN Indonesia | Rabu, 25/03/2020 05:35 WIB
APM Respons Jokowi Longgarkan Cicilan Motor Satu Tahun Ilustrasi motor ojol. (CNN Indonesia/Farid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) tak ingin berkomentar banyak menyikapi kebijakan yang disampaikan Presiden Joko Widodo terkait relaksasi kredit sepeda motor hingga satu tahun buat pekerja ojek online imbas virus corona.

Asosiasi yang membawahi lima merek besar produsen sepeda motor Indonesia yaitu Yamaha, Honda, Kawasaki, Suzuki, dan TVS itu menyatakan masih akan mempelajari hal tersebut.

"Kami pelajari dulu," kata Divisi Humas AISI Ahmad Muhibbuddin melalui pesan singkat, Selasa (24/3).

Kebijakan Jokowi ini dilandasi pada keluhan pekerja transportasi online di tengah wabah corona. Menurut Jokowi banyak pengemudi kesulitan membayar cicilan sepeda motor sebab ada kebijakan bekerja dan belajar dari rumah untuk mencegah penularan corona. 


Hal tersebut justru membuat jumlah pengguna jasa ojek online berkurang yang berujung kepada anjloknya pendapatan harian pengemudi.

Kabarnya relaksasi ini membuat pemilik sepeda motor hanya akan membayar bunga, atau bisa juga cuma angsuran pokok saja dalam periode tertentu tergantung kesepakatan dengan perusahaan pembiayaan.

"Keluhan saya dengar juga dari tukang ojek, supir taksi, yang sedang memiliki kredit motor dan mobil atau pun nelayan yang sedang kredit perahu. Saya kira juga perlu disampaikan jangan khawatir karena pembayaran bunga dan angsuran diberikan relaksasi selama 1 tahun," kata Jokowi.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu Komunitas pengemudi ojek online (ojol) Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) menyambut baik kebijakan itu. Garda menilai hal tersebut dapat melonggarkan beban pengemudi lantaran pendapatan terus menyusut seiring kebijakan bekerja dan belajar dari rumah sebagai bentuk pencegahan penularan wabah corona.

Igun bilang pendapatan pengemudi terus anjlok dari hari ke hari dengan kebijakan tersebut. Penghasilan rata-rata pengemudi  hingga saat ini sudah mengalami penurunan secara signifikan lebih kurang 50-70 persen.

"Ojol hanya andalkan pesan layan antar makanan dan kiriman barang, yang penumpang sangat anjlok," kata Igun.


(ryh/DAL)