Masker Snorkeling Bakal 'Disulap' Jadi Ventilator

CNN Indonesia | Minggu, 29/03/2020 10:09 WIB
Masker snorkeling sedang dikembangkan untuk menggantikan ventilator pasien Virus Corona yang jumlahnya semakin tidak memadai di dunia. Pasien dicoba menggunakan masker snorkeling sebagai pengganti ventilator di Erasme Hospital, Brussels, Belgia. (AFP/KENZO TRIBOUILLARD)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika rumah sakit menghadapi peningkatan jumlah pasien Virus Corona COVID-19, staf medis yang inovatif menggunakan masker snorkeling sebagai alat bantu pernapasan para pasien.

Gagasan itu bermula di Italia, negara Eropa yang paling terpukul oleh pandemi Virus Corona, dengan rumah sakit di negara lain mencatat dan menambahkan alat medis khusus untuk membuat masker snorkeling itu bekerja.

Inovasi ini salah satunya digunakan di Rumah Sakit Erasme di pinggiran ibukota Belgia, Brussels, dengan bantuan Endo Tools Therapeutics, yang pengetahuannya dalam pencetakan 3 Dimensi bagi alat medis terbukti sangat berharga.


"Mereka akan digunakan untuk pasien dengan masalah pernapasan parah. Tujuannya adalah untuk menghindari keharusan untuk mengintubasi trakea pasien dan menempatkan mereka pada respirator," kata Frederic Bonnier, seorang fisioterapis pernapasan di rumah sakit yang juga mengajar di ULB.

Dia membuat desain katup buatan di bagian atas masker snorkel, memungkinkan mereka terhubung ke mesin BiPAP standar yang memasok tekanan udara ke dalam masker snorkel.

Ini membantu mencegah kolapsnya alveoli, kantung udara paru-paru yang dibutuhkan untuk asupan oksigen ke dalam tubuh dan mengembuskan karbon dioksida.

Pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 menyerang membran paru-paru dan mengisi kantung-kantung itu dengan cairan.

Dalam kasus infeksi terburuk, pasien harus dihubungkan ke respirator di ruang unit perawatan intensif.

Tetapi saat ini jumlah respirator sangat sedikit akibat banyaknya pasien.

Inovasi masker snorkeling ini bisa menjadi tindakan pencegahan selama ketiadaan ventilator dan masker rumah sakit untuk mesin BiPAP (bilevel positive airway pressure).

Bonnier mengatakan bahwa mulai Senin (30/3) dia akan menguji 50 masker snorkeling ini pada pasien.

Masker ini menggunakan merek yang sama dengan yang digunakan oleh dokter Italia, disumbangkan oleh pengecer pakaian olahraga Prancis Decathlon yang memiliki toko di seluruh dunia. Topeng itu sendiri dibuat di Italia.

Dia menjelaskan masker ini jauh lebih nyaman daripada masker rumah sakit yang terlalu ketat di hidung dan mulut.

Tetapi dia mengingatkan mereka tidak diuji dengan standar medis, yang berarti mereka hanya sekali pakai, tidak dapat disterilkan setelah penggunaan.

Desain Italia untuk katup cetak 3D juga perlu dikerjakan ulang.

"Tampaknya cukup rumit untuk dibuat, cukup berat, tidak terlalu nyaman. Jadi kami punya ide untuk mengembangkan dengan cara sendiri," katanya.

Konektor katup plastik baru kini telah dicetak 3D dan siap untuk diuji.

Bonnier menambahkan bahwa petugas kesehatan di bangsal COVID-19 juga dapat menggunakan masker ini untuk perlindungan terhadap virus.

Tapi dia khawatir masyarakat akan mulai panik membeli masker snorkeling.

Dia juga mengatakan bahwa, bahkan jika tes terbukti konklusif, masih ada pertanyaan tentang berapa banyak topeng seperti itu dapat disediakan oleh perusahaan olahraga.

Decathlon menyatakan "berminat" untuk memproduksi masker snorkeling lebih banyak - namun dengan kehati-hatian.

"Saat ini kami tidak memiliki konfirmasi bahwa solusi ini benar-benar berfungsi," kata mereka melalui cuitan di akun Twitter-nya.

"Jika kami melihat uji coba yang berhasil, maka kami akan terus memberi Anda informasi. Tetapi sementara itu, waspadalah terhadap penyebaran informasi yang tidak bersumber dan tidak diverifikasi di media sosial dalam beberapa hari terakhir."

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)