BMKG Jelaskan Hujan Lebat Jabodetabek Jelang Musim Kemarau

CNN Indonesia | Selasa, 31/03/2020 20:07 WIB
Masyarakat Indonesia sendiri menunggu musim kemarau karena dianggap bisa memusnahkan virus corona yang saat ini makin meluas. Ilustrasi hujan lebat. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menanggapi hujan lebat di wilayah Jabodetabek dalam satu minggu ke belakang. Padahal musim kemarau di Indonesia sendiri disebut masuk pada bulan April.

Masyarakat Indonesia menunggu musim kemarau karena dianggap bisa memusnahkan virus corona covid-19 yang saat ini tengah merebak.

Wilayah Jakarta dan sekitarnya tak kunjung memberikan tanda musim kemarau dengan tingginya curah hujan. Bahkan BMKG  mengeluarkan peringatan dini potensi hujan di DKI Jakarta pada 31 Maret hingga 2 April 2020.


Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan awal musim kemarau tahun 2020 bervariasi, yakni terjadi pada April hingga Oktober. Hanya 17 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia akan mengawali musim kemarau pada April 2020, yaitu di sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa.

"Sebanyak 38,3 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei 2020, meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Sementara itu 27,5 persen di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan masuk awal musim kemarau di bulan Juni 2020," ujar Dwikorita kepada CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).


Ia mengatakan Indonesia mengalami puncak musim hujan 2020 pada Februari hingga Maret 2020. Dwikorita menjelaskan  pada pertengahan Agustus 2019, BMKG merilis bahwa Awal Musim Hujan di Indonesia akan mengalami kemunduran, sebagian besar dimulai bulan November sampai Desember 2019.

"Hasil pemantauan perkembangan musim hujan hingga akhir Februari 2020 menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia (98%) telah memasuki musim hujan," ujar Dwikorita.

Di sisi lain, Dwikorita mengakui musim kemarau 2020 di Indonesia mengalami kemunduran apabila dibandingkan dengan rerata klimatologis Awal Musim Kemarau (periode 1981-2010).

Jika dibandingkan maka musim kemarau 2020 diperkirakan mundur 148 ZOM (43,3 persen), normal pada 128 ZOM (37,4 persen), dan maju pada 66 ZOM (19,3 persen).

"BMKG mengimbau para pemangku- kepentingan dan masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal, yaitu di sebagian wilayah Bali, Nusa Tenggara, Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah bagian utara dan selatan," kata Dwikorita.

[Gambas:Video CNN]

Datangnya musim kemarau berkait erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia).

BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada April 2020, lalu wilayah Bali dan Jawa, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2020 dan akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2020.

Untuk puncak musim kemarau diprediksi, sekitar 9.9 persen daerah ZOM akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juli, sedangkan 64.9 persen pada Agustus dan sekitar 18,7 persen pada September.

"[Mayoritas] Puncak Musim Kemarau 2020 diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2020," katanya.


Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2020 diperkirakan normal atau sama dengan rerata klimatologis pada 197 ZOM (57,65  persen).

Di sisi lain, Dwikorita menjelaskan 103 ZOM (30,1 persen), akan mengalami kondisi kemarau bawah normal dengan kemarau lebih kering. (KEMARAU LEBIH KERING). Curah hujan musim kemarau di ZOM lebih rendah dari rerata klimatologis.

Sementara itu, 42 ZOM (12.3 persen) akan mengalami atas normal atau kemarau lebih basah, yaitu curah hujan lebih tinggi dari reratanya.

"Musim kemarau tahun 2020 secara umum diprediksi lebih basah dari musim kemarau tahun 2019, meskipun demikian perlu diwaspadai 30 persen ZOM yang diprediksi akan mengalami kemarau lebih kering dari normalnya," ujar Dwikorita.

(jnp/DAL)