NASA Rilis Gambar Gempa dan Gunung Api Hawaii Lewat Radar

CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 05:59 WIB
NASA merilis gambar aktivitas gempa bumi dan gunung berapi di kawasan Taman Nasional Gunung Berapi Hawaii yang dipantau radar. Ilustrasi gunung api Hawaii. (AFP PHOTO / FREDERIC J. BROWN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Antariksa Amerika (NASA) merilis gambar aktivitas gempa bumi dan gunung berapi yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Berapi Hawaii yang dipantau menggunakan Radar Pencitraan CubeSat pada 3-5 Juli 2018.

Hal itu dilakukan sebagai pembuka jalan bagi para peneliti NASA untuk memantau dampak dari aktivitas vulkanik, gempa bumi, dan perubahan yang terjadi di permukaan tanah.

Menurut peneliti utama NASA, Lauren Wye, nantinya ia dan tim membuat sebuah peta untuk merinci perubahan ketinggian tanah dari waktu ke waktu supaya mereka mengetahui pergerakan tanah selama gempa bumi dan letusan gunung berapi berlangsung.


Selain itu mereka juga bisa mengidentifikasi dampak dari banjir dan pemompaan air tanah.

"Radar Pencitraan CubeSat untuk Ilmu Bumi atau bisa disebut CIRES dapat membantu kami mengambil keputusan untuk mendapatkan pengamatan yang lebih cepat terkait peristiwa alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi," kata Wye dilansir laman resmi NASA.


Dengan teknologi yang dikembangkan Wye dan tim, mereka berhasil mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan oleh Gunung Api Kilauea (yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Api Hawaii) yang menimbulkan deformasi pada tahan.

CIRES dilengkapi dengan teknologi S-band Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Nantinya CIRES mengambil dua gambar radar dari area tertentu yang mana posisinya juga sejajar dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) NASA.

Untuk memantau deformasi tanah, peneliti menempatkan sensor di permukaan tanah dan dipadukan dengan Global Positioning System (GPS). Pengukuran dengan radar InSAR sebetulnya hanya sebagai pelengkap.

Posisi radar InSAR yang tengah mengorbit di Bumi ini dapat merekam sampai ke bagian bawah tanah untuk mengamati perubahan deformasi tanah itu.

[Gambas:Video CNN]

Proyek CIRES sendiri dimulai sejak Januari 2015 dan dikembangkan oleh SRI International dengan bantuan dana dari Earth Science Technology Office NASA.

"InSAR ini sangat berguna untuk memahami gunung berapi di daerah terpencil," kata Ahli Geofisika AS, Kyle Anderson.

Sebelumnya, InSAR pernah dimanfaatkan untuk melihat proses deformasi tanah di kawasan Oregon bagian tengah sejak 1997-2001.

Data InSAR menunjukkan bahwa deformasi di daerah tersebut berasal dari letusan gunung berapi 1.500 tahun yang lalu. Karena terjadi perubahan, maka mereka memamsang seismometer, GPS, dan peralatan pemantauan gas untuk memeriksa lebih lanjut aktivitas lainnya.

Hasilnya pada 2004, instrumen-instrumen yang dipasang itu menunjukkan setidaknya terjadi 300 gempa kecil.

(din/DAL)