Lubang Ozon Kutub Selatan Menciut, Membesar di Kutub Utara

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 07:14 WIB
Lubang Ozon Kutub Selatan Menciut, Membesar di Kutub Utara Ilustrasi (AFP Forum)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ilmuwan mengklaim menemukan lubang lapisan ozon terbesar di Kutub Utara yang diprediksi terbentuk sejak 25 tahun lalu. Lubang ozon tersebut diakibatkan klorofluorokarbon (CFC), bahan kimia yang umum di aerosol, dan pendingin pada 1980an.

Padahal sebelumnya, para peneliti baru saja mengumumkan kalau terjadi perubahan lubang ozon di atas Antartika. Luas lubang ozon di kawasan itu disebut semakin sedikit.

Ilmuwan menyatakan lubang ozon itu tidak statis. Ukuran lubang disebut berfluktuasi sesuai musim. Puncak lubang ozon itu terjadi pada Oktober, yakni saat pergantian dari musim dingin ke musim panas di Antartika.
 
Lapisan ozon berfungsi melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet dari Matahari. Akan tetapi, lubang di Kutub Utara menimbulkan radiasi UV yang menggabungkan suhu sangat dingin, pola medan angin tertentu, dan CFC yang tersisa untuk memulai proses penipisan sekali lagi. 


Seperti Kutub Utara, Arktik juga mengalami siklus yang sama dengan tingkat ozon yang berfluktuasi selama setahun. Namun, karena suhu di Arktik tidak sedingin di Antartika maka tidak pernah ada lubang sebesar lapisan ozon seperti di Kutub Utara hingga saat ini.
 
Para ilmuwan dari Pusat Dirgantara Jerman baru-baru ini melihat penurunan tingkat ozon yang sangat tinggi di Kutub Utara. Sejak 14 Maret, level lapisan ozon anjlok hingga kurang dari 220 Unit Dobson.
 
Melansir New Atlas, Penemuan itu dilakukan dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh instrumen Tropomi di ESA Copernicus Sentinel-5P.

Pada titik terbesarnya, lubang ozon Kutub Utara memanjang hingga hampir satu juta kilometer persegi (400.000 mi2). Itu membuatnya menjadi yang terbesar yang terlihat di sana sejak pencatatan terus-menerus dimulai pada 1995.

Konon, itu masih sangat kecil dibandingkan dengan lubang ozon Antartika yang dapat mencapai ukuran 20 hingga 25 juta km2 (7,7 hingga 9,7 juta mi2).
 
Tim mengatakan bahwa kehilangan ozon Arktik yang sangat besar ini disebabkan oleh angin kencang yang luar biasa sehingga menjebak udara dingin di dalam pusaran kutub di Kutub Utara. Namun,  para peneliti mengatakan itu akan pulih sendiri pada pertengahan April.
 
Melansir Inverse, NAS dan ESA menduga suhu ekstrem dan cuaca yang tidak biasa selama musim dingin tahun ini di kutub Utara Bumi telah membuat lapisan ozon di atas Kutub Utara berlubang cukup besar. 

Menipisnya ozon di atas Kutub Utara bukanlah kejutan. Sebab, atmosfer di atas kutub Utara dan Selatan kehilangan ozon setiap tahun.

Penyebab utamanya adalah suhu yang sangat rendah menyebabkan awan di atas kutub membentuk satu massa, sementara bahan kimia seperti klorin dan bromin yang berasal dari sumber industri memicu reaksi pada awan yang menyebabkan mereka menggerogoti lapisan pelindung ozon. (jps/eks)

[Gambas:Video CNN]