"Oleh karena itu, perlu kerja sama dalam antisipasi sharing capacity, cost effectiveness, dan reposisi organisasi," kata Johnny dalam konferensi pers bersama MarkPlus, Selasa (21/4), merespons keluhan para penyedia internet yang merugi kala wabah corona..
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza mengeluh wabah Covid-19 telah menurunkan pendapatan perusahaan penyedia jasa internet (internet service provider/ ISP) di Indonesia.
Semua hal itu berpengaruh karena sebagian besar penyedia jaringan internet di Indonesia hidup dari model bisnis Business to Business (B2B) yang melayani korporasi dan hotel.
Ia mengatakan APJII yang memiliki lebih dari 500 ISP di seluruh Indonesia, bukanlah deretan perusahaan-perusahaan besar. Mayoritas anggota APJII adalah perusahaan ISP kecil yang notabene hidup dari model bisnis Business to Business (B2B).
"Jadi, tidak ada kata industri kami ini diuntungkan dari pandemi Covid-19. Itu adalah persepsi yang salah," ujar Jamalul.
Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) mengatakan 85 persen dari total penyelenggara di bidang telekomunikasi mempunyai pasar di sektor perusahaan.
Ketua Umum Apjatel, Muhammad Arif Angga dalam suratnya kepada Menkominfo Johnny G. Plate, mengakui ada pertumbuhan signifikan dari trafik layanan dan pelanggan ritel baru. Efeknya, operator juga perlu membarui beberapa layanan dan hal itu berdampak pada biaya produksi.
"Dalam peningkatan jumlah pelanggan baru, sekilas akan terlihat market meningkat, tapi sebagai penyelenggara jaringan, sekecil apa pun kita mendapatkan pelanggan, tentu ada biaya Capex (capital expenditure/belanja modal) yang kami keluarkan, terutama investasi kabel dan perangkat aktifnya," katanya
Di sisi lain, operator seluler yang sedianya menjadi salah satu penyedia internet yang ketiban rezeki akibat kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, ikut mengeluh.
Sebab, pendapatan tambahan mereka menurut Ririek tergerus oleh insentif dan pengeluaran tambahan untuk memastikan kualitas jaringan. Selain itu, peningkatan pendapatan mereka sangat bergantung pada daya beli masyarakat.
"Jadi traffic naik, tapi pemasukan flat saja," ungkap Ririek.
Peningkatan lalu lintas pengguna internet juga memaksa operator harus mengeluarkan belanja modal untuk mempertahankan kestabilan jaringan.
Ririek menyebut operator mesti mengeluarkan biaya lebih untuk memasang kabel dan perangkat aktif lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengikuti perubahan pola penggunaan internet dari area perkantoran ke area perumahan.
Ririek mengatakan selain memastikan kualitas jaringan, operator juga telah memberikan insentif kuota bonus gratis untuk akses pendidikan digital. Ia mengungkap kontribusi pemain seluler kepada masyarakat selama Covid-19 mencapai angka Rp2 triliun. (jnp/eks)