Cara Kerja Teleskop Bosscha Amati Hilal Ramadan 1441 Hijriah

CNN Indonesia | Kamis, 23/04/2020 18:52 WIB
Petugas melihat posisi hilal (bulan) untuk menetapkan 1 Ramadan 1440 H di Masjid Al Musyariin Basmol, Jakarta, 5 Mei 2019. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan bahwa tanggal 1 Ramadan 1440 H di Indonesia jatuh pada Kamis 1440 Mei 2018. Ilustrasi hilal Ramadan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Observatorium Bosscha menyatakan menggunakan dua buah teleskop refraktor dalam proses pengamatan hilal Ramadan 1441 Hijriah. Setiap teleskop dilengkapi oleh satu buah kamera CCD yang digunakan untuk merekam objek pengamatan.

Dalam keterangan resmi, dua buah teleskop refraktor yang digunakan Bosscha masing-masing berdiameter 106 dan 66 mm.

"Tim Pengamat Hilal Observatorium Bosscha menggunakan dua buah teleskop refraktor yang masing-masing berdiameter 106 dan 66 mm.  Setiap teleskop dilengkapi oleh satu buah kamera CCD yang digunakan untuk merekam objek pengamatan," kutip keterangan resmi Bosscha, Rabu (23/4).


Bosscha menyampaikan pengamatan hilal sudah dilakukan sejak dua hari lalu. Dalam pengamatan, Bossca mengaku mamasang alat bantu untuk menghalangi bias matahari saat pengamatan, yakni baffle. Selain untuk mengecek kesiapan instrumen, persiapan lebih awal dilakukan untuk kalibrasi terhadap objek langit yang ditargetkan.

Selain itu, Bossca juga memanfaatkan filter matahari ketika teleskop diarahkan ke arah matahari.


Pakar astronomi Institut Teknologi Bandung Moedji Raharto menjelaskan hilal adalah fase bulan, seperti purnama atau sabit. Secara spesifik, hilal adalah bulan sabit yang terbentuk ketika konjungsi sudah dimulai.

"Konjungis adalah suatu keadaan dimana bulan dan matahari pada satu bujur yang sama. Setelah karena dia bergerak terus maka bulan dan matahari menjauh, akhirnya bulan sabitnya makin lebar dan mudah dilihat," ujar Moedji di tengah pengamatan hilal Ramadan 1441 H dilakukan di Observatorium Bosscha secara virtual, Rabu (23/4).

Moedji mengatakan hilal pada zaman dahulu diamati dengan mata biasa. Karena tak menggunakan teleskop, hilal yang dilihat hanya berukuran besar yang dilihat. Sedangkan teleskop bisa memverifikasi hilal yang sebenarnya sebagai tanda untuk menentukan awal bulan baru dalam kalender islam.

"Jadi ada dua yang harus diperhatikan, pertama kali dia melewati masa-masa konjungsi. Setelah itu apakah bisa dilihat visual mata kita," katanya.

Moedji menyampaikan banyak observatorium telah mengembangkan teknologi untuk mengamati sabit bulan pada siang hari setelah konjungsi. Sehingga pengamatan hilal saat ini dinilai sudah jauh berkembang.


"Sekarang dengan penemuan teleskop sekarang orang bisa menemukan pointing dan tracking yang akurat karena sains tentang posisi bulan diketahui sangat baik," ujar Moedji.

Meodji menambahkan ada ratusan hal yang mempengaruhi hilal. Misalnya, dia mengatakan bumi yang mengorbit secara elips pada matahari. Sehingga pada bulan Januari, bumi memiliki posisi dekat dengan matahari dibandingkan dengan bulan Juli.

"Akibat dekatnya matahari bisa menimbulkan cahaya terang sekali.  Jadi seharusnya sebuah sabit bulan yang misalnya seluas 1 persen dari seluruh bundaran itu bisa dilihat dengan mudah tapi pada bulan Januari sangat sulit karena langitnya terang dan uap airnya banyak karena dekat matahari," ujarnya.

Lebih dari itu, Moedji menyatakan rukyatul hilal tidak ada yang kadaluarsa. Dia mengatakan kalender Islam berbeda dengan kalender lain yang hanya menggunakan konjungsi.

"Tidak ada istilah rukyatul hilal itu kadaluarsa. Tapi sebenarnya rukyatul hilal menjadi jiwa Islam itu sendiri," ujar Moedji.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK