Mengenal Antivirus Remdesivir dan Chloroquine Obati Corona

CNN Indonesia | Jumat, 08/05/2020 06:25 WIB
Petugas menunjukkan obat Chloroquine yang akan diserahkan kepada RSPI Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu (21/3/2020). Kementerian BUMN menyerahkan sebanyak 1.000 butir Chloroquine kepada RSPI Sulianti Saroso sebagai simbol bahwa pemerintah bergerak untuk menangani penyebaran virus corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras. Ilustrasi Chloroquine obati corona. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas kesehatan Amerika Serikat menyetujui penggunaan remdesivir sebagai obat darurat untuk mengobati pasien dengan gejala parah Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2. Remdesivir merupakan obat antivirus yang dikembangkan perusahaan bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat, Gilead Sciences. 

The US National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) mengatakan pasien yang menggunakan obat remdesivir lebih cepat pulih daripada pasien yang hanya mendapatkan plasebo.

Waktu rata-rata pemulihan untuk pasien dengan remdesivir adalah 11 hari. Sementara pasien yang hanya diobati dengan plasebo membutuhkan waktu pemulihan hingga 15 hari.

Vaksin dengan kode pengembangan GS-5734 itu masuk kelas analog nukleotida. Antivirus ini disintesis dalam beberapa turunan ribosa. Gilead beberapa waktu lalu menyatakan tengah menguji obat remdesivir untuk mengobati pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang. 

Perusahaan itu memiliki pengalaman mengembangkan dan memasarkan obat-obatan HIV, termasuk Truvada. Untuk membunuh virus corona baru, remdesivir diketahui mesti diberikan secara intravena (metode pemberian obat melalui injeksi atau infus).


Nantinya, obat remdesivir bakal menghambat replikasi virus melalui penghentian dini transkripsi RNA dan mengandalkan aktivitas in-vitro (istilah biologi yang dipakai untuk menyebutkan kultur suatu sel, jaringan, atau bagian organ tertentu) untuk melawan virus corona SARS-CoV-2.

Selain itu, remdesivir juga mengandalkan aktivitas in-vivo (mengacu pada eksperimen menggunakan keseluruhan organisme hidup) terhadap virus corona beta.

Sedangkan obat chloroquine atau pil kina diketahui merupakan obat yang dijadikan rujukan untuk mengobati pasien Covid-19. Pemerintah Indonesia bahkan membeli 3 juta butir obat tersebut. 

Sebelum untuk Covid-19, chloroquine yang terbuat dari pohon kina terkenal karena keampuhannya menyembuhkan dan mencegah malaria. Selain itu, obat tersebut juga digunakan pada sejumlah penyakit.


Kandungan antivirus dan antiinflamasi dalam kina bisa melawan penyakit seperti rheumatoid arthritis, dan lupus erythematosus. Manfaat kina juga digunakan untuk mengatasi masalah pencernaan seperti kembung, memperbaiki fungsi perut, kram, dan untuk kesehatan kulit.

Penelitian mendapati pada studi awal, chloroquine bisa memblokir infeksi virus. Pada pasien di lebih dari 10 rumah sakit di China, chloroquine dapat meningkatkan citra paru, mempercepat virus menjadi negatif, dan memperpendek penyakit.

LIPI menyampaikan diperlukan kajian lebih lanjut terkait penggunaan obat malaria untuk mengobati virus corona. Namun, ia mengatakan obat tersebut memang digunakan untuk mikroorganisme berupa parasit plasmodium penyebab malaria.

"Efektivitas-nya untuk mengobati virus memang perlu kajian lebih jauh dan komprehensif mengingat memang target nya berbeda antara malaria plasmodium dengan virus Covid-19," ujar Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian Kimia LIPI, Akhmad Darmawan.


(panji/DAL)

[Gambas:Video CNN]