PVMBG dan BMKG Tak Tahu Penyebab Dentuman Jawa Tengah

CNN Indonesia | Senin, 11/05/2020 14:05 WIB
Pemandangan saat awan mendung menyelimuti wilayah Jakarta. Rabu (11/12/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim hujan akan berlangsung mulai Februari 2020 di wilayah DKI Jakarta. Meski belum memasuki puncak musim hujan, BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi banjir sejak masa transisi saat ini.  CNN Indonesia/Andry Novelino Ilustrasi. PVMBG dan BMKG mengaku tak tahu sumber dentuman misterius (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) belum mengetahui penyebab suara dentuman yang terdengar di beberapa tempat di Jawa Tengah pada Senin dini hari (11/5).

Baik PVMBG dan BMKG mengatakan suara dentuman tidak berkaitan dengan peningkatan aktivitas erupsi gunung di Jawa Tengah.

"Saya tidak tahu, Bisa dilihat di web magma.esdm.go.id aktivitas gunung api di Jawa Tengah tidak ada yang erupsi, jadi tidak ada yang bisa dicurigai seperti Anak Krakatau pada 11 April lalu," kata Kepala Bidang Mitigasi PVMBG Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (11/5).


Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan dulu di Jawa Tengah memang sempat terdengar dentuman akibat gempa dangkal.

Saat itu, peristiwa gempa dangkal yang mengeluarkan dentuman keras terjadi di Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada 17 Februari 2014.

Dentuman ini terkait dengan gempa Lereng Merbabu saat itu memiliki magnitudo M 2,7 terjadi pagi hari pukul 06.00 WIB. Episenternya terletak pada koordinat 7,39 LS dan 110,48 BT dengan kedalaman 3 km.

"Seperti yang dilaporkan warga Desa Sumogawe, gempa yang merusak beberapa rumah ini diikuti suara dentuman keras hingga membuat warga resah, khawatir Gunung Merbabu akan meletus," kata Daryono.

Namun, menurut Daryono bunyi ledakan akibat gempa sangat dangkal lazimnya hanya terjadi sekali saat terjadi patahan batuan. Suara dentuman itu tidak terjadi  berulang-ulang.

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan ada beberapa kemungkinan penyebab suara dentuman saat terjadi gempa. Fenomena dentuman saat gempa dapat terjadi jika gempa memicu gerakan tanah berupa rayapan tiba-tiba dan sangat cepat di bawah permukaan.

Kemungkinan lain berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif. Dalam hal ini ada mekanisme dislokasi batuan yang menyebabkan pelepasan energi berlangsung secara tiba-tiba dan cepat hingga menimbulkan suara ledakan.

"Apalagi jika terjadinya patahan batuan tersebut terjadi di kawasan lembah dan ngarai atau di kawasan tersebut banyak rongga batuan sehingga memungkinkan suaranya makin keras karena resonansi," katanya.

Beberapa peristiwa gempa Bantul 2006 juga mengeluarkan bunyi dan sempat meresahkan warga saat itu. Namun, ia sekali lagi menegaskan suara dentuman yang terjadi pada Senin (11/5) pagi dipastikan bukan dari aktivitas gempa tektonik

"Perlu kami informasi kan bahwa pada hari Senin 11 Mei 2020 pukul 00.45 WIB sampai dengan 01.15 WIB yang mana periode waktu ini disebut-sebut oleh warga muncul suara dentuman," kata Daryono.

"Setelah dilakukan pengecekan terhadap gelombang seismik dari seluruh sensor gempa BMKG yang tersebar di Jawa Tengah, hasilnya menunjukkan tidak ada catatan aktivitas gempa yang terjadi di Jawa Tengah," sambungnya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida pun turut mengatakan suara dentuman tidak berkaitan dengan aktivitas gunung api di Jawa Tengah.

"Memang Gunung Merapi saat ini sedang aktif di atas normal, tetapi berdasar tidak pemantauan tidak ada indikasi yang berkaitan dengan dentuman tersebut," ujar Hanik. (jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]