Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menuturkan fluktuasi kurva pandemi relatif normal terjadi di berbagai negara. Namun, dia berkata pemerintah harus mencermati penyebab dari fluktuasi tersebut.
"Bila testing yang dilakukan jumlahnya tidak ada penurunan dari sebelumnya dan kurva menurun maka ini salah satu petanda baik," ujar ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Senin (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Dicky memprediksi durasi pandemi Covid-19 di Indonesia masih akan berlangsung lama. Dia berkata hal itu berdasarkan waktu, durasi, hingga obat atau vaksin yang ditemukan.
Namun, dia mengatakan masa pandemi bisa dipercepat jika intervensi yang dilakukan oleh pemerintah tepat.
"Masalahnya adalah intervensi yang dipilih dan dilakukan akan menentukan tipe kurva yang akan dialami Indonesia," ujar Dicky.
"Walaupun masih terjadi lonjakan-lonjakan kecil kasus Covid-19, namun relatif tidak akan mengakibatkan banyak korban jiwa dan juga tidak membebani fasilitas layanan kesehatan," ujarnya.
Dicky mengingatkan Indonesia tertinggal 2 sampai 4 minggu di belakang virus SARS-CoV-2 karena kasus kematian yang masih terus ada. Berdasarkan data, dia menyibut angka kematian karena Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia.
Sebelumnya, pada Sabtu (9/11) angka kurva kasus corona baru di Indonesia dilaporkan melonjak menembus batas perkiraan tertinggi yakni di atas 500 kasus baru. Sebagaimana terlihat di situs Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, kurva menyentuh angka 533 kasus baru.
Sehari setelahnya, Minggu (10/11) kurva turun menjadi 387 kasus baru.