"Jadi kalau tujuan kita untuk skrining individu di fase awal, tentu swab PCR adalah pilihan pertama," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/5).
Ahmad menuturkan cara yang tepat untuk memutus transmisi virus adalah dengan mengenali individu yang terjangkit di fase awal infeksi atau di fase individu masih berpotensi untuk menularkan virus ke orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Ahmad menilai rapid test dengan sampel darah untuk melihat antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 tidak efektif jika digunakan pada fase awal infeksi. Dia menyebut literatur positivitas skrining individu di fase awal menggunakan rapid tes antibodi sensitivitasnya berkisar antara 20 hingga 30 persen.
Di sisi lain, Ahmad menilai alat rapid test buatan Roche mampu melacak spesifik virus corona SARS-CoV-2 dengan akurasi 99,8 persen dan tingkat sensitivitas 100 persen bukan hal yang mengejutkan. Sebab, dia mengatakan alat itu mengambil sampel dari pasien yang sudah diketahui PCR positif.
"Dan diambilnya dua minggu setelah gejala terjadi. Jadi tidak heran akan menghasilkan data 100 persen sensitif," ujar Ahmad.
Ahmad menambahkan validasi rapid test bisa dilakukan dengan cara mengambil sampel orang yang belum pernah menjalani tes PCR. Pada waktu yang bersamaan, rapid test dilakukan kepada orang tersebut.
"Lalu hitung tingkat kesamaannya," ujarnya.
Lebih dari itu, Ahmad menilai alat buatan Roche bukan untuk menegaskan hasil tes PCR. Sebab, dia menilai PCR justru untuk menegaskan hasil rapid test.
"Karena kalau rapid tes positif, ada dua kemungkinan. Pertama, pasien sudah sembuh dan tidak ada virus lagi. Kedua, pasien masih mengalami infeksi aktif," ujar Ahmad.
"Jadi kalau tes antibodi Roche digunakan untuk menegaskan hasil PCR malah jadi aneh. Karena kemungkinan besar hasilnya pasti positif," ujarnya.