Jack Ma Mundur dari SoftBank Usai 13 Tahun Menjabat

CNN Indonesia | Selasa, 19/05/2020 03:15 WIB
Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10). Forum diskusi tersebut membahas Disrupting Development: How digital platforms and innovation are changing the future of developing nations. ANTARA FOTO/ ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa/hp/2018. Ilustrasi Jack Ma. (ANTARA FOTO/ ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- SoftBank Group mengumumkan Co-founder Alibaba, Jack Ma mundur sebagai dewan direksi setelah 13 tahun menjabat. Pengunduran diri Ma akan berlaku efektif pada 25 Juni setelah rapat tahunan pemegang saham SoftBank Group.

Perusahaan tidak membeberkan alasan pengunduran diri Ma. Akan tetapi, Ma telah menarik diri dari bisnis dan fokus ke aktivitas filantropi.

Pada September lalu, ia juga mengundurkan diri dari pucuk pimpinan Alibaba. Ia diprediksi juga akan mundur dari dewan Alibaba pada rapat tahunan pemegang saham pada tahun ini.


Dilansir dari TechCrunch, Ma memiliki hubungan bisnis yang panjang dengan ketua dan CEO SoftBank Group Masayoshi Son.

SoftBank juga adalah salah satu pendukung utama pertama Alibaba dengan investasi sebesar US$20 juta pada 2000 silam, satu tahun setelah Alibaba didirikan.


Pada 2020, SoftBank Group memiliki sekitar 25,1 persen saham Alibaba.

Pengumuman SoftBank Group dibuat beberapa jam sebelum dijadwalkan untuk merilis laporan pendapatan kuartal pertama. Ma adalah satu-satunya orang  yang akan mundur dari 11 dewan direktur SoftBank.

Perusahaan juga mengatakan akan mencalonkan tiga dewan direksi baru, termasuk Chief Financial Officer SoftBank Yoshmoto Goto untuk dipilih pada pertemuan pemegang saham.


Dilansir dari CNBC, hengkangnya Ma menyusul kepergian pendiri dan CEO Uniqlo, Tadashi Yanai. Yanai mengundurkan diri dari dewan pada akhir tahun lalu untuk fokus pada bisnisnya.

Pengumuman mundurnya Ma tak lama setelah perusahaan melaporkan kerugian pada kuartal pertama 2020. Perusahaan itu mengatakan bulan lalu pihaknya memperkirakan  kehilangan sekitar US$ 16,5 miliar.

Kerugian sebagian besar disebabkan oleh hampir runtuhnya WeWork, dan dampak pandemi Covid-19 pada perusahaan portofolio lain, termasuk Uber dan Oyo. Perusahaan juga diperkirakan akan membukukan kerugian operasi tahunan sebesar US$ 12,5 miliar.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]