Konser BPIP Sepi Pendukung, Dikecam Warganet

CNN Indonesia | Selasa, 19/05/2020 17:30 WIB
Ilustrasi Twitter, Rabu, 27 November 2019. Layanan jejaring sosial berlogo burung biru ini dikabarkan akan menghapus akun yang sudah tak aktif selama lebih dari enam bulan mulai 11 Desember. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi warganet. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan konser penggalangan dana yang digelar bersama Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) lebih banyak mendapat respons negatif dari warganet.

"Konser BPIP saya lihat sepi pendukung di media sosial. Yang ada hanya satu cluster merah," kicau Ismail lewat akun Twitter @ismailfahmi, Senin (18/5).




Ismail menjelaskan klaster merah adalah istilah untuk komentar negatif yang disampaikan oleh waganet.

Berdasarkan identifikasi, salah satu komentar yang paling banyak di retweet terkait acara itu adalah kritik yang disampaikan oleh akun @faridgaban yang mempertanyakan Indonesia adalah negara atau yayasan. Dia berkata negara mengabaikan tugas utama membuat kebijakan publik yang benar untuk menangani wabah.

Kicauan Farid Gaban diretweet lebih dari 1.400 kali. Kemudian disusul krtikan yang disampaikan akun @ustadtengkuzul yang menyebut BPIP dikaji jutaan rupiah prestasinya membuat konser musik. Kicauan @ustadtengkuzul diretweet lebih dari seribu kali.


Lebih lanjut, Ismail juga tidak mengira acara tersebut tidak mendapat atensi dari akun besar dan influensial. Hasil identifikasi, dia mengaku hanya menemukan kicauan dari akun oposisi pemerintah Jokowi.

"Akun2 pendukung tak tampak. Beda dg konser Didi Kempot, keduanya bersatu dalam Sobat Ambyar," kicaunya.

Di sisi lain, Ismail menyampaikan ekpresi warganet dalam bentuk hashtags terkait Konser BPIP. Sebanyak 582 menggunakan tagar  #StopKonserUnfaedah; 183 tagar #PhysicalDistancing; 141 tagar #RepublikTerserah; 74 tagar #TerserahIndonesia; 28 tagar #indonesiaterserah; 23 tagar  #TerserahLoeDeh; 23 tagar #bpip; dan 18 tagar #MerakyatTapiBoong.

Adapun ekspresi warganet lewat gambar, Ismail berkata tidak mendapat dukungan publik. Dia justru menemukan gambar yang pasca konser yang memperlihatkan tidak adanya jaarak sosial dan penggunaan masker.

"Konsernya sendiri malah tak mendapat engagement publik. Tak tampak gambarnya. Sebaliknya, foto bersama pasca acara konser, yg banyak dishare," ujar Ismail.

"Saran: jika foto itu sengaja akan dishare, sebaiknya gunakan masker semua. Sebagai simbol dukungan kepada nakes (tenaga kesehatan)," ujarnya menambahkan.


Dalam postingannya, Ismail juga kembali membeberkan blunder tebesar dari konser BPIP adalah tidak adanya jarak sosial dan penggnaan masker saat acara berakhir. Dalam foto yang diungga, Ketua MPR Bambang Soesatyo, Kepala BPIP Yudian Wahyudi, dan sederet artis foto berdekatan tanpa menggunakan masker.

"Jika tuan dan puan setidaknya pakai masker dan berjarak, saya yakin para nakes masih bisa senyum sedikit. Simbol respek," kicau Ismail.

"Oh iya, saya ndak tahu gimana perasaan para nakes melihat tuan dan puan tanpa masker, tanpa physical distancing, jadi contoh disaksikan jutaan mata. Wearing a mask is a sign of respect," ujarnya.

Lebih dari itu, Ismail sepakat dengan ide membangun goto-royong yang digaungkan oleh BPIP dalam menghadapi Covid-19. Akan tetapi, dia meminta implementasi semangat itu haru sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Implementasinya harus benar2 sesuai sains, protokol kesehatan ketat, dan harus hati2 dengan simbol dan sign kalau bentuknya adalah "pertunjukan." Publik sudah cerdas," kicau Ismail.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]