Pegawai Twitter Diserang Pendukung Trump Terkait Kasus Cuitan

eks, CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2020 18:32 WIB
Ilustrasi Twitter, Rabu, 27 November 2019. Layanan jejaring sosial berlogo burung biru ini dikabarkan akan menghapus akun yang sudah tak aktif selama lebih dari enam bulan mulai 11 Desember. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pegawai Twitter diserang oleh para pendukung Donald Trump gara-gara kasus pelabelan cuitan Trump sebagai cuitan tak berdasar.

Yoel Roth, kepala integrasi situs Twitter diserang oleh para pendukung dan penasihat utama Presiden Amerika Serikat itu. Pasalnya ia dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas pelabelan cuitan Trump itu.

Ia menjadi sasaran kritik pendukung Trump lantaran ia sempat mencuitkan kritik terhadap Trump pada 2016-2017. Dalam cuitannya itu, ia menyebut Trump sebagai rasis dan NAZI sebenarnya di Gedung Putih.


Konselor Gedung Putih Kellyanne Conway pun lantas berkomentar pedas soal cuitan Roth itu. 

Twitter pun bergerak dan membela Roth, Rabu (27/5). Perusahaan itu menyebut Yoel bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan pelabelan cuitan Trump itu.

"Tidak ada individu di Twitter yang bertanggung jawab atas kebijakan kami atau tindakan penegakan. Sangat disayangkan melihat seorang pegawai menjadi target atas hasil keputusan perusahaan," jelas juru bicara Twitter, seperti dikutip CNN

Ia pun menambahkan bahwa CEO Twitter Jack Dorsey pun bukan pengambil keputusan atas hal itu. Ia hanya mendapat informasi terkait hal tersebut.

Jack Dorsey pun ikut berkomentar lewat cuitannya. 

"Cek fakta: seseorang yang pada akhirnya bertanggung jawab atas tindakan kita sebagai perusahaan adalah saya," tulis Dorsey seperti dikutip Business Insider.

"Tolong tinggalkan karyawan kami (dari masalah) ini. Kami akan terus menunjukkan informasi yang salah atau sengketa tentang pemilihan umum secara global."

Cuitan Trump yang dipermasalahkan terkait dengan klaim bahwa gubernur California tengah mengirimkan surat suara bagi warga di negara bagian itu.

Cuitan ini lantas dilabeli sebagai cuitan yang tak berdasar oleh Twitter. Sebab, isinya berpotensi menyesatkan. Di bawah kolom kicauan Trump, Twitter mengunggah tautan 'dapatkan fakta tentang mail-in ballots' dan mengarahkan pengguna twitter untuk melihat sejumlah fakta terkait pengiriman surat suara itu.

Kejadian ini merupakan pertama kalinya dilakukan oleh platform media sosial setelah lama menolak seruan untuk mengecam postingan Trump yang dianggap menentang kebenaran.

Roth adalah bagian dari tim Kepercayaan dan Keamanan Twitter. Tim ini bekerja untuk melindungi pengguna dan membangun informasi yang terpercaya di platform itu.

Kepala Hukum, Kebijakan, Kepercayaan, dan Keamanan Twitter menyebut bahwa kebijakan itu adalah keputusan perusahaan.

"Kami adalah tim yang memiliki pandangan berbeda dan kami mendukung pengguna kami dan keputusan kami untuk tetap menjaga perbincangan yang sehat di platform ini." (eks)

[Gambas:Video CNN]