Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, sel T atau T-cells merupakan salah satu tipe dari darah putih yang berperan sebagai antibodi tubuh.
Sel ini bekerja sama dengan makrofag (sel pada jaringan yang berasal dari sel darah putih dan difungsikan untuk pertahanan) untuk menyerang virus atau bakteri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sel T sitotoksik (sel CD8 + T) sendiri terlibat dalam penghancuran langsung sel-sel yang telah menjadi kanker atau terinfeksi virus.
"Pada saat sel T mengetahui adanya ancaman virus berbahaya, maka secara langsung sel T ini dapat menggandakan diri agar tubuh tetap mampu menyimpan energi dan bekerja dengan baik untuk membunuh virus corona Covid-19," jelas Dicky.
Dicky pun mengiyakan hasil penelitian tersebut. Menurut dia, seseorang yang berhasil dan sembuh melawan Covid-19, memiliki respon sel T yang baik.
Sebaliknya, seseorang yang tidak dapat bertahan dari Covid-19, tidak menghasilkan respon sel T yang cukup baik.
"Studi menemukan beberapa orang yang tidak pernah terinfeksi SARS-Cov-2 memiliki pertahanan T seluler ini, kemungkinan besar karena mereka sebelumnya terinfeksi dengan virus corona lainnya. Sel T penolong memacu pembela kekebalan tubuh lainnya untuk bekerja. Tingkat keparahan penyakit Covid dapat bergantung pada kekuatan respon sel T ini," jelas Dicky.
"Orang yang belum terinfeksi SARS-Cov-2 ini telah memiliki sel T penolong yang mengenali SARS-Cov-2. Reaksi sel-sel ini kemungkinan dipicu oleh infeksi masa lalu dengan salah satu dari empat virus corona manusia yang menyebabkan pilek, di mana protein dalam virus tersebut menyerupai SARS-Cov-2," tambahnya. (din/mik)