Analisis

Bintang Emon, Fitnah Buzzer dan Represi Demokrasi di Medsos

CNN Indonesia | Selasa, 16/06/2020 18:37 WIB
Woman hands using social network with laptop, Social media and connection communication concept. Ilustrasi Buzzer di Medsos. (Istockphoto/ipopba)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komika Bintang Emon diduga diserang buzzer di platform media sosial (medsos) akibat kritikan terhadap tuntutan ringan pelaku penyiraman penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

Buzzer bahkan menuding Bintang menggunakan narkotika jenis sabu. Meski hal tersebut langsung dibantah oleh Bintang dengan guyonan, tudingan ini sempat menjadi trending topic di Twitter.

Pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan mengatakan fenomena yang dialami Bintang Emon adalah dugaan pencemaran nama baik atau fitnah yang dilakukan para buzzer.


Firman mengatakan fenomena defamasi dengan serangan siber menargetkan para aktivis atau pegiat media sosial yang vokal menyuarakan pendapat. Mereka yang kritis akan mendapat tekanan, terutama mereka yang kritis terhadap kebijakan pemerintah.

"Tekanan itu mulai dari gangguan terhadap sosial media yang digunakan, pemampangan jejak digital lama, pembongkaran identitas privasi pihak yang kritis (doxing) hingga penangkapan dan interogasi oleh pihak keamanan," kata Firman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (16/6).

Fenomena defamasi terbaru peristiwa pencemaran reputasi Bintang. Muncul fitnah terhadapnya sebagai pecandu narkoba, setelah melontarkan monolog #taksengaja.

"Implikasi dari tekanan terhadap sikap kritis itu, tentu saja pembungkaman untuk melanjutkan wacana kritis," kata Firman.

Bintang Emon(Foto: Screenshot via instgram @bintangemon)
Bintang Emon

Dalam konteks kebebasan berpendapat, Firman khawatir fenomena ini akan menekan kebebasan berpendapat. 

"Sikap kritis masyarakat akan berubah jadi apatisme, dan berujung pada munculnya stigma buruk, bahwa pemerintah anti kritik," kata Firman.

Firman kemudian menjelaskan fenomena akun anonim dan akun buzzer yang seringkali meramaikan suatu isu. Patut diingat, pada komunikasi digital tak seluruh pihak yang terlibat dapat teridentifikasi dengan jelas.

Firman menjelaskan pada medium digital, pelaku dapat menyembunyikan identifikasi sejatinya. Bahkan tak jarang dijalankan oleh bot.

Sejumlah akun yang menuding Bintang yang kini telah diblokir bahkan hanya memiliki beberapa enam pengikut. Tercatat ada tiga pengguna yang menyerang Bintang yakni @Tiara61636212, @LintangHanita, dan @LiarAngsa.

"Jika selama ini seakan posisi berhadapan dimainkan oleh warga negara yang kritis dengan pemerintah, maka sangat bisa jadi ada pihak ketiga yang memancing kekeruhan, tampil sebagai salah satu dari dua pihak tersebut. Tujuannya tetap menggiring opini publik," kata Firman.

Lebih lanjut, Firman menjelaskan jalan keluar dari keadaan serangan buzzer terhadap kebebasan berpendapat adalah terbangunnya dialog antar pihak yang nampak berseberangan.

"Beda pendapat adalah ciri demokrasi. Selain masing masing perlu bersedia mendengar suara dari pihak lain tanpa curiga, adanya penjelasan yang argumentatif terhadap kebijakan yang ditempuh, harus kerap dikomunikasikan," ujar Firman.


Terpisah, Kepala Sub Divisi Digital at Risks Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Ellen Kusuma mengatakan aksi buzzer terhadap Emon adalah upaya defamasi atau pencemaran nama baik berujung pada represi atau bentuk penindasan di internet.

"Ini [serangan netizen ke Bintang Emon] menunjukkan situasi demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang sangat darurat. Adanya upaya defamasi yang dilakukan oleh buzzer-buzzer tidak jelas asal usulnya untuk mendelegitimasi Bintang Emon juga saya lihat muncul di Twitter," ujar Ellen kepada CNNIndonesia.com.

Ellen mengungkapkan usaha delegitimasi oleh para netizen ini bukanlah yang pertama. Sudah ada beberapa kasus yang berupaya mendelegitimasi suara atau ekspresi aktivis dengan penggiringan opini publik yang ad hominem (logika sesat yang menyerang pribadi).

Ia mengatakan kejadian yang dialami Bintang serupa modusnya dengan kasus-kasus yang menimpa banyak aktivis. Yang terbaru adalah aktivis yang baru-baru ini membahas diskusi #PapuanLivesMatter.

"Ini bukan kejadian pertama, saya juga tidak yakin ini akan jadi kejadian terakhir. Yang jelas adalah ini makin sering terjadi, dan makin berbahaya, karena pelaku-pelakunya tidak pernah diusut apa lagi ditindak," kata Ellen.

Logos of US social network Twitter are displayed on the screen of smartphones, on May 2, 2019 in Nantes, western France. (Photo by LOIC VENANCE / AFP)Ilustrasi Twitter. (Foto: LOIC VENANCE / AFP)


Lebih lanjut, Ellen berharap agar pemerintah bisa menghukum para pelaku dalam kasus-kasus serupa yang dialami aktivis dan Bintang. Penegakan hukum ini adalah itikad baik, ketegasan, dan transparansi untuk menegakkan demokrasi.

"Jangan tebang pilih hanya menindak kasus-kasus yang dianggap mencoreng citra dan wajah rezim," tutup Ellen

Warganet soal Bintang Emon

Pengguna media sosial bernama Raihan mengatakan hal yang dialami Bintang merupakan sesuatu yang lumrah terjadi bagi mereka yang terlalu vokal menyuarakan pendapat di media sosial.

Raihan mengatakan buzzer bisa digunakan sebagai tentara digital bayaran untuk mendorong suatu isu atau menekan suatu isu.

"Harusnya yang paham pasti sama-sama mengerti buzzer bisa bersuara apa aja, dibayar siapa aja dengan tujuan apa aja," kata Raihan.


Raihan mengatakan yang menarik adalah ketika SAFEnet terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa serangan warganet ke Bintang adalah salah satu bentuk represi internet terhadap kebebasan berekspresi.

Di sisi lain, Raihan mengatakan buzzer mungkin saja memainkan isu tersebut sebagai bentuk teguran pemerintah agar Bintang tak terlalu vokal.

Dihubungi terpisah, warganet bernama Rachel mengatakan Bintang tak bersalah karena cukup vokal  menyampaikan isu terkini lewat video komedi bertajuk Dewan Perwakilan Omel-omel (DPO).

"Menurut saya Emon itu tidak salah, karena dia beropini. Sama saja seperti kita sedang diskusi dalam suatu pekerjaan. Itu hal biasa, mungkin yang menonjol adalah karena dia beropini di media sosial dan dia itu tenar," kata Rachel.


(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]